Sunday, 14 April 2019

Payung Geulis Khas Tasikmalaya


Payung Geulis Khas Tasikmalaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

payung cantik tasikmalaya

Masyarakat Sunda merupakan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan, akan tetapi bagi masyarakat Sunda, kebudayaan dapat diterima atau ditolak tergantung dengan tradisi dan kebudayaannya. Pada awalnya industri kerajinan payung ini merupakan milik etnis Cina yang bermukim di Kota Tasikmalaya. Kemudian masyarakat Tasikmalaya mengembangkannya menjadi kerajinan khas Tasikmalaya, yang kita kenal dengan payung geulis khas Tasikmalaya. Ketika industri ini mulai menguntungkan secara ekonomis, maka mulai banyak warga sekitar yang beralih pekerjaan. Salah satunya H. Syahrod, yang pada awalnya bekerja sebagai petani kemudian beralih bekerja pada industri payung, dan akhirnya mendirikan kerajinan payung geulis di Desa Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Diperkirakan industri payung geulis khas Tasikmalaya ini telah ada di wilayah Kecamatan Indihiang pada sekitar abad ke-19. Usaha kerajinan merupakan suatu kegiatan yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga akhirnya kegiatan ini menjadi ciri khas masyarakat di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Perkembangan awal industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya tidak dapat dilepaskan dari peranan H. Syahrod yang kini telah tiada, namun masih dilanjutkan oleh generasi ke-empat dari keturunan beliau. Setelah memiliki modal sendiri dan menguasai bidang usaha ini, beliau mendirikan industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang, tepatnya di Desa Panyingkiran. Pada masa itu, keterampilan membuat payung merupakan usaha sampingan di luar sektor pertanian, ketika menunggu hasil panen, warga sekitar bekerja sebagai pengrajin di H. Syahrod, sehingga pekerjaan ini dapat memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya, usaha kerajinan payung menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, hal ini dapat dilihat dari ketertarikan warga sekitar untuk menekuni usaha payung geulis. Maka para wanita pun mulai menekuni bidang usaha ini.
Keberadaan industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang telah menarik minat wanita, khususnya yang sudah berkeluarga untuk terlibat dalam industri ini. Karena hal tersebut merupakan proses yang cukup panjang. Hal ini terjadi karena keadaan sosial budaya yang berkembang di masyarakat masih berorientasi bahwa lelaki bertanggung jawab untuk mencari nafkah, sedangkan wanita bertanggung jawab pada rumah tangga.
Pada umumnya payung berfungsi hanya sebagai pelindung diri dari hujan atau sengatan terik matahari. Namun payung geulis ini mempunyai nilai lebih dan fungsi yang berbeda, yakni sebagai penghias para mojang Tasik yang sedang memakai kebaya pada acara tertentu, misalnya acara perkawinan, upacara adat, atau dapat dipakai untuk penghias hotel, restoran, atau tempat pariwisata lainnya guna menambah keunikan tersendiri untuk menarik perhatian wisatawan.
Payung geulis dibuat secara handmade (menggunakan tangan). Namun, biasanya hanya pembuatan gagang saja yang memakai mesin (bor). Gagang payung geulis terbuat dari bambu atau kayu albasi. Di dalam proses pembuatan payung geulis diperlukan sejumlah tahap berikut:
1. Pada rangka payung yang sudah tersedia, pengrajin memasang kertas berbentuk bulat yang besar-kecilnya tergantung ukuran payung yang dibuat.
2. Tahapan kedua disebut ngararawat, yakni memasang benang pada bagian dalam payung. Proses ini merupakan tahapan yang cukup rumit dan memerlukan kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan keuletan.
3. Kertas dan benang sudah terpasang pada rangka payung, lalu dilakukan proses pemolesan kanji tapioka atau lem agar menjadi kaku, setelah itu dilakukan pengecatan. Warna yang digunakan sesuai keinginan pemesan. Setelah dicat, payung dijemur di bawah terik matahari.
4. Tahapan keempat adalah melukis di atas payung. Motif lukisan yang dibuat biasanya berupa bunga, batik, dan hewan seperti kupu-kupu, tergantung pemesanan.
5. Tahapan terakhir adalah dipernis agar payung yang dihasilkan lebih menarik dan motif lukisannya lebih terlihat hidup. Untuk selanjutnya dipasang gagang payung. Tahapan ini disebut dengan istilah nyetel.


EmoticonEmoticon