Saturday, 13 April 2019

Teori Belajar Gagne


Teori Belajar Gagne
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

robert m. gagne

Robert Mills Gagne lahir di Andover Utara, Massachusetts. Ia mendapatkan gelar Ph.D. dari Universitas Brown pada tahun 1940. Gagne adalah seorang Professor dalam bidang psikologi pendidikan di Connecticut College (1940-1949), Universitas Negara Bagian Pensylvania (1945-1946), dan Professor di Departemen Penelitian Pendidikan di Universitas Negara Bagian Florida di Tallahasse (1969). Gagne juga menjabat sebagai direktur riset untuk Angkatan Udara di Lanckland, Texas, dan Colorado (1949-1958) dan Institut Penelitian Amerika di Pittsburgh (1962-1965). Gagne pernah bekerja sebagai konsultan dari Departemen Pertahanan (1958-1961) dan untuk Dinas Pendidikan Amerika Serikat (1964-1966).
Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Hal ini sejalan dengan pendapat Mariana (dalam Trianto, 2009, hlm. 27) yang menyatakan bahwa “terjadinya belajar pada diri siswa memerlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun eksternal”. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran.
Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar bersifat kompleks. Di dalam pernyataannya tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, sikap, minat, atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne (dalam Djamarah, 2006, hlm. 14) terdapat delapan tipe belajar, yakni:
1. Belajar isyarat (signal learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat. Misalnya menutup mulut dengan telunjuk, sebagai isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, sebagai isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan tersebut bersifat umum, kabur, dan emosional. Belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
2. Belajar stimulus-respons (stimulus respons learning)
Tipe belajar stimulus-respons bersifat spesifik. Misalnya mencium bau masakan sedap akan keluar air liur, 3 x 3 = 9, dan lain sebagainya. Setiap respons dapat diperkuat  dengan reinforcement.
3. Belajar rangkaian (chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antara stimulus-respons yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan, dan minum.
4. Asosiasi verbal (verbal assosiation)
Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terhadap dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain. Misalnya ada suatu kalimat “benda tersebut berbentuk limas”. Seseorang dapat menyatakan bahwa suatu benda berbentuk limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut.
5. Belajar diskriminasi (discrimination learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
6. Belajar konsep (concept learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Melalui suatu konsep dapat digolongkan binatang bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus, seperti mamalia, reptilia, amphibia, burung, serangga, dan ikan. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi.
7. Belajar aturan (rule learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah suatu aturan (rule). Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam lingkaran sama dengan 360 derajat. Setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
8. Belajar pemecahan masalah (problem solving learning)
Memecahkan masalah adalah hal yang biasa dalam kehidupan. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai hal yang relevan dengan masalah tersebut. Di dalam pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat atau lama. Seringkali juga harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal setiap unsur dari masalah tersebut, mencari hubungan dengan aturan tertentu. Di dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Kesanggupan pemecahan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.

Referensi
Djamarah, S. B. (2006). Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Trianto (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana.


EmoticonEmoticon