Saturday, 15 June 2019

Gangguan Identitas Gender pada Anak


Gangguan Identitas Gender pada Anak
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

gangguan gender identity

Identitas gender adalah keadaan psikologis yang merefleksikan perasaan dalam diri seseorang yang berkaitan dengan keberadaan diri sebagai laki-laki dan perempuan. “Istilah identitas gender (gender identity) merujuk kepada persepsi diri individu sebagai pria atau wanita” (Halgin dan Whitbourne, 2010, hlm. 308).
Gender merupakan interpretasi sosiokultural, seperangkat peran yang telah dikonstruksi oleh masyarakat bagaimana menjadi laki-laki atau perempuan. Perangkat perilaku ini mencakup penampilan, perilaku, pakaian, sikap, kepribadian, seksualitas, tanggung jawab keluarga, dan sebagainya. Sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh karakteristik peran gender. Peran gender individu sepanjang masa perkembangannya akan mempengaruhi bagaimana ia memandang dirinya, caranya berinteraksi dengan orang lain, termasuk dalam perilaku sosial, tingkat kreativitas, dan kemandirian. Seperangkat peran gender adalah tentang seperti apa yang seharusnya dan bagaimana perilaku, perasaan, dan pikiran individu sebagai seorang maskulin atau feminim.
Lebih lanjut Hyde (dalam Santrock, 2003, hlm. 328) menjelaskan tentang perbedaan maskulin dan feminim pada tabel berikut:

No.
Maskulin
Feminim
1.
Percaya pada kemampuan sendiri (self relient)
Mudah menyerah (yielding)
2.
Mempertahankan pendapat sendiri (defends own belief)
Riang gembira (cheerfulll)
3.
Mandiri (independent)
Malu (shy)
4.
Atletis (atletic)
Penuh kasih sayang (affectionate)
5.
Asertif (assertive)
Suka dipuji (flattereble)
6.
Berkepribadian kuat (strong personality)
Setia (loyal)
7.
Berkuasa (force full)
Lemah lembut (gentle)
8.
Analitis (analitical)
Simpatik (symphatetic)
9.
Memiliki kemampuan memimpin (has leadership abilities)
Sensitif terhadap kebutuhan orang lain (sensitive to the needs of others)
10.
Mampu menghadari resiko (willing to take risk)
Pengertian (understanding)
11.
Mudah mengambil keputusan (makes decision easily)
Mudah merasa iba (compassionate)
12.
Memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficient)
Mampu meredakan perasaan yang terluka (eager to soothe hurt feeling)
13.
Dominan (dominant)
Halus tutur kata (soft spoken)
14.
Bersifat maskulin (masculin)
Hangat (warm)
15.
Bersedia memegang teguh suatu sikap (willing to take a stand)
Lembut (tender)
16.
Agresif (aggresive)
Mudah tertipu (gullible)
17.
Bertindak sebagai pemimpin (actions as a leader)
Kekanak-kanakan (childlike)
18.
Suka berkompetisi (competitive)
Tidak menggunakan bahasa kasar (does not use harsh language)
19.
Ambisius (ambitious)
Mencintai anak-anak (loves children)

Adapun gangguan identitas gender atau lebih dikenal dengan istilah transeksual adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita di mana terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya. Seseorang yang mengalami gangguan identitas gender merasa bahwa dirinya adalah jenis kelamin dari lawan jenisnya yang lain, maka dari itu ia ingin menjadi anggota dari lawan jenis kelaminnya. Seseorang yang mengalami gangguan identitas gender merasa bahwa jauh di dalam dirinya, biasanya sejak awal masa kanak-kanak, mereka adalah orang yang berjenis kelamin berbeda dengan dirinya saat ini. Mereka tidak menyukai pakaian dan aktivitas yang sesuai dengan jenis kelamin mereka.
Lebih lanjut kriteria gangguan identitas gender pada anak dijabarkan sebagai berikut:
1. Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap lawan jenis.
2. Berungkali menyatakan keinginan untuk menjadi atau memaksakan bahwa ia adalah lawan jenis.
3. Lebih suka memakai pakaian lawan jenis.
4. Lebih suka berperan sebagai lawan jenis dalam bermain atau terus menerus berimajinasi menjadi lawan jenis.
5. Lebih suka melakukan permainan yang merupakan stereotip lawan jenis.
6. Lebih suka bermain dengan teman-teman dari lawan jenis.
Kebanyakan anak menurut Sheperd (dalam Desmita, 2008, hlm. 146) mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam perkembangan peran gender. “Pada tahap pertama, seorang anak mengembangkan kepercayaan tentang sebagai seorang laki-laki atau perempuan. Tahap kedua, seorang anak mengembangkan keistimewaan gender, tentang bagaimana seorang anak laki-laki atau perempuan bersikap. Kemudian pada tahap ketiga adalah tahap di mana ia memperoleh ketetapan gender”.
Pada umumnya anak usia 2 tahun sudah dapat menerapkan label laki-laki atau perempuan secara tepat atas dirinya sendiri dan orang lain. Konsepnya tentang gender lebih didasarkan pada ciri-ciri fisik, seperti pakaian, model rambut, atau jenis permainan. Pada umumnya anak baru mencapai ketetapan gender pada usia 7 hingga 9 tahun.
Tidak seorang pun mengetahui apa penyebab gangguan identitas gender. Setidaknya terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas gender, yakni:
1. Faktor biologis
Sebenarnya belum ada temuan yang spesifik mengenai penyebab gangguan identitas gender. Meskipun tampaknya ada kemungkinan bahwa faktor biologis dapat menjadi penyebab gangguan tersebut. Peneliti bidang biologi percaya bahwa pilihan permainan dan mainan memiliki dasar dari hormon yang muncul pada saat masa pranatal, tepatnya ada atau tidak adanya hormon androgen saat anak di dalam kandungan (hormon pembentuk maskulinitas).
2. Faktor sosial dan psikologis
Peran lingkungan juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan identitas gender. Misalnya, ibu yang suka mendandani anak laki-lakinya seperti anak perempuan. “Perilaku demikian justru dapat memberikan kontribusi besar dalam konflik antara jenis kelamin dan identitas gender” (Davison dan Neale, 2006, hlm. 616).

Referensi
Davison, G. C., & Neale, J. M. (2006). Psikologi Abnormal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Desmita, R. (2008). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Halgin, R. P., & Whitbourne, S. K. (2010). Psikologi Abnormal (Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis). Jakarta: Salemba Humanika.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga.


EmoticonEmoticon