Friday, 28 June 2019

Kedwibahasaan

Kedwibahasaan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kemultibahasaan

Istilah kedwibahasaan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan bilingualism, sangat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menggunakan dua bahasa atau kode bahasa.
Kedwibahasaan adalah ekspresi yang sepadan ketika mereka menggunakan dua bahasa. Hal ini terjadi karena bahasa tersebut mungkin tidak memiliki item atau terjemahan kata yang sesuai dengan kosakata yang dibutuhkan. Menurut Fishman (1972, hlm. 54) “bilingualism is the property of the individual. An individual use of two languages supposes the existense of two different langauge communities”. Artinya, kedwibahasaan adalah milik individu. Penggunaan dua bahasa oleh individu tersebut menunjukan adanya dua komunitas bahasa yang berbeda. Menurut Spolsky (2004, hlm. 45) “Bilingual is a person who has some functional ability in a second language”. Artinya, bahwa bilingual adalah seseorang yang mempunyai kemampuan fungsional dalam bahasa kedua. Menurut Bloomfield (1995, hlm. 1) “it is the ability to use two languages equally well by a speaker as a native speaker mastering his language”. Artinya, kedwibahasaan merupakan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh penutur sebagai seorang penutur asli yang menguasai bahasanya.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedwibahasaan berhubungan erat dengan pemakaian dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau masyarakat secara bergantian. Kedwibahasaan berarti pemakaian dua bahasa secara bergantian, baik secara produktif maupun reseptif seorang individu atau oleh masyarakat.
Kedwibahasaan tersebut kemungkinan dimulai ketika penduduk melakukan migrasi sehingga terjadi kontrak budaya yang berujung pada kontak bahasa pula dengan penduduk asli yang memiliki bahasa yang berbeda. Keadaan itupun akhirnya membuat mereka menanggalkan atau tidak memakai kembali bahasa asli mereka. Pada situasi kedwibahasaan sering terlihat orang melakukan penggantian satu bahasa dengan bahasa lainnya dalam berkomunikasi. Penggantian bahasa ini biasanya terjadi karena tuntutan berbagai situasi yang dihadapi oleh masyarakat. Selain itu, peralihan atau penggantian bahasa tersebut dapat terjadi karena penggantian topik pembicaraan.

Referensi
Bloomfield, L. (1995). Language. London: Henderson & Spalding.
Fishman, J. A. (1972). Sociolinguistic a Brief Introduction. Massachusetts: Newbury House Publisher.
Spolsky, B. (2004). Sociolinguistics. New York: Oxford University Press.


EmoticonEmoticon