Thursday, 27 June 2019

Pendekatan High (Scope)


Pendekatan High (Scope)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendekatan pembelajaran High (Scope)

Pada awalnya, high (scope) digunakan sebagai nama kurikulum yang dikembangkan untuk anak usia tiga sampai empat tahun. Pada perkembangannya nama high (scope) digunakan sebagai suatu pendekatan yang digunakan dalam program penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada tahun 1960-an progam ini ditujukan untuk anak-anak yang menghadapi kesulitan belajar dengan situasi dan program sekolah dari lingkungan miskin di Ypsilanti, Michigan. Program ini ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah negatif kemiskinan dalam sekolah bagi anak-anak di lingkungan tersebut.
Pada tahun 1962, David P. Weikart, direktur pelayanan khusus dari Ypsilanti Public School mengembangkan suatu program yang diberi nama dengan Perry Preschool Project, yang pada kemudian hari dikenal dengan High (Scope) Perry Preschool Project. Melalui program ini, Weikart mengembangkan program intervensi bagi anak usia tiga sampai empat tahun untuk mempersiapkan anak-anak prasekolah lingkungan miskin agar dapat sukses di sekolah. Program ini diselenggarakan di sebuah tempat pusat komunitas. Kemudian seiring berjalan waktu dipindahkan ke Perry Elementary School. Pada tahun 1970, Weikart meninggalkan sekolah umum ini dan mendirikan High (Scope) Educational Reasearch Foundation.
Program pendidikan high (scope) merujuk kepada teori pembelajaran Piaget yang dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi terhadap perkembangan anak pada tahap perkembangannya. Program ini disusun berdasarkan pada tugas-tugas perkembangan setiap anak yang berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu. Tugas guru melaksanakan program sesuai dengan karakteristik anak. Pendekatan high (scope) bermaksud untuk membantu mengembangkan:
1. Kemampuan anak dengan menggunakan berbagai macam kegiatan seni dan gerak.
2. Pengetahuan anak tentang objek berdasarkan konsep pendidikan kemampuan berbicara, dramatisasi, dan kemampuan grafikal yang direpresentasikan melalui pengalaman dan mengomunikasikan pengalaman mereka terhadap sesama teman atau orang dewasa.
3. Kemampuan bekerjasama dengan orang lain, membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukan sesuatu serta merencanakan penggunaan waktu dan energi mereka.
High (scope) mengembangkan kurikulum yang melibatkan anak sebagai pembelajar dan perencana aktif. “Guru berperan sebagai fasilitator dan membimbing dalma menyiapkan kelas dan bahan-bahan yang akan digunakan anak dalam merencanakan kegiatan, beraktivitas, mengulangi aktivitas, dan menambah pengalaman” (Wijana, dkk., 2009, hlm. 2.26).
Kurikulum high (scope) membantu anak-anak prasekolah menjadi lebih bebas, mandiri, bertanggung jawab, dan menjadi pembelajar yang percaya diri. Pada pembelajaran high (scope) anak-anak dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran melalui penggunaan berbagai alat permainan yang ada. Diharapkan anak akan memperoleh sejumlah pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan dirinya. Anak-anak prasekolah belajar membuat perencanaan sendiri dan berlatih untuk menerapkannya agar anak dapat memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk membangun landasan yang kuat bagi perkembangan dan pembelajaran mereka pada tahap selanjutnya.
Program high (scope) memiliki perencanaan kegiatan yang sama untuk setiap hari, menyediakan kerangka kerja yang konsisten untuk orang dewasa dan anak. Rangkaian kegiatan disusun dalam siklus perencanaan-tindakan-review (plan-do-review). Kegiatan inti high (scope) setiap harinya memberikan kebebasan kepada anak untuk mempertimbangkan minatnya, membuat rencana, mengikuti kehendaknya, dan menggambarkan pengalaman.
Pengaturan jadwal sehari-hari juga mengizinkan anak bertemu dan berkumpul dalam sebuah kelompok kecil atas inisiatif orang dewasa yang didasari oleh minat anak, kebutuhan, dan tingkat perkembangan mental anak serta melibatkannya dalam sebuah aktivitas berdasarkan kelompok dalam berinteraksi sosial, musik, dan pergerakan fisik.

Referensi
Wijana, W., dkk. (2009). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Universtas Terbuka.


EmoticonEmoticon