Wednesday, 19 June 2019

Pola Asuh Orang Tua


Pola Asuh Orang Tua
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

ragam Pola Asuh Orang Tua

Pola asuh adalah metode atau cara yang dipilih pendidik dalam mendidik anak-anaknya yang meliputi bagaimana pendidik memperlakukan anak didiknya. Pada konteks pola asuh orang tua, yang dimaksud pendidik adalah orang tua, terutama ayah dan ibu atau wali. Menurut Darling dan Steinberg (1993, hlm. 487) “pola asuh adalah kumpulan dari sikap, praktik, dan ekspresi nonverbal orang tua yang bercirikan kealamian dari interaksi orang tua kepada anak sepanjang situasi yang berkembang”. Sedangkan menurut Muallifah (2009, hlm. 42-43) “pola asuh merupakan sikap orang tua dalam beraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa pola asuh orang tua merupakan cara mendidik dan membimbing orang tua kepada anaknya yang mengarah kepada pengembangan pribadi dan menentukan perilaku bagi anak dalam suatu keluarga.
Pada dasarnya, terdapat tiga pola asuh orang tua yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dijabarkan sebagai berikut:
1. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Menurut Dariyo (2011, hlm. 207) “pola asuh otoriter adalah sentral, artinya segala ucapan, perkataan, maupun kehendak orang tua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anaknya”.
Orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah sebagai objek pelaksana saja. Jika anak membantah, orang tua tidak segan-segan akan memberikan hukuman, biasanya hukumannya berupa hukuman fisik. Akan tetapi, apabila anak patuh maka orang tua tidak akan memberikan penghargaan karena orang tua menganggap bahwa semua itu adalah kewajiban yang harus dituruti oleh seorang anak.
Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangat dibatasi oleh orang tua, apa saja yang akan dilakukan oleh anak harus sesuai dengan keinginan orang tua. Jika anak membantah perintah orang tua, maka akan dihukum, bahkan mendapat hukuman yang bersifat fisik dan jika patuh orang tua tidak akan memberikan hadiah.
2. Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis merupakan suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak, orang tua memberikan bimbingan yang penuh pengertian kepada anak. Menurut Dariyo (2011, hlm. 208) “pola asuh demokratis adalah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap, dan tindakan antara anak dan orang tua”.
Pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oran tua. Pola asuh ini ditandai sikap terbuka antara orang tua dengan anak. Mereka membuat aturan-aturan yang telah disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, dan keinginannya. Jadi, dalam pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak.
3. Pola asuh permisif
Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan yang diberikan kepada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Menurut Dariyo (2011, hlm. 207) “pola asuh permisif ini orang tua justru merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan serta kebebasan secara luas kepada anaknya”. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.
Orang tua serba membolehkan anak berbuat apa saja. Orang tua membebaskan anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginan sendiri. Orang tua memiliki kehangatan dan menerima apa adanya. Kehangatan, cenderung memanjakan, dituruti keinginannya. Sedangkan menerima apa adanya akan cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja.
Pola asuh orang tua permisif bersikap terlalu lunak, tidak berdaya, memberi kebebasan terhadap anak tanpa adanya norma-norma yang harus diikuti oleh mereka. Mungkin karena orang tua sangat sayang (over affection) terhadap anak atau orang tua kurang dalam pengetahuannya.
Adapun faktor-faktor yang berpengaruh dalam pola pengasuhan orang tua, antara lain:
1. Lingkungan sosial dan fisik tempat di mana keluarga tersebut tinggal
Pola pengasuhan suatu keluarga turut dipengaruhi oleh tempat di mana keluarga itu tinggal. Apabila suatu keluarga tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya berpendidikan rendah serta tingkat sopan santun yang rendah, maka anak dapat dengan mudah ikut terpengaruh.
2. Model pola pengasuhan yang didapat orang tua sebelumnya
Kebanyakan dari orang tua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sebelumnya. Hal ini diperkuat apabila mereka memandang pola asuh yang pernah mereka dapatkan dipandang berhasil.
3. Lingkungan kerja orang tua
Orang tua yang terlalu sibuk bekerja cenderung menyerahkan pengasuhan anak mereka kepada orang-orang terdekat atau bahkan kepada baby sitter. Oleh karena itu, pola pengasuhan yang didapat oleh anak juga sesuai dengan orang yang mengasuh anak tersebut.

Referensi
Dariyo, A. (2011). Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: PT Refika Aditama.
Darling, N., & Steinberg, L. (1993). Parenting Style as Context: An Integrative Model. United States: Psychological Bulletin.
Muallifah (2009). Psycho Islamic Smart Parenting. Yogyakarta: Diva Press.


EmoticonEmoticon