Sunday, 16 June 2019

Sarapan Pagi


Sarapan Pagi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pentingnya Sarapan Pagi

Sarapan pagi adalah suatu kegiatan yang penting sebelum melakukan aktivitas pada pagi hari. Frekuensi makan yang baik adalah tiga kali sehari. Hal ini berarti sarapan pagi tidak boleh ditinggalkan. “Sarapan pagi berupa makanan atau minuman yang memberikan energi dan zat gizi lain yang dikonsumsi pada waktu pagi hari dan dilakukan antara pukul 06.00-08.00” (Khomsan, 2004, hlm. 103).
Sarapan pagi bagi anak sangatlah penting, karena waktu sekolah merupakan aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Sarapan pagi dapat memberikan dampak positif terhadap kehadiran sekolah yang baik, asupan zat gizi, kebugaran, dan berat badan yang sehat.
Anak yang melewatkan waktu sarapan akan mengalami kekurangan energi dan motivasi untuk beraktivitas. Selain itu, kekurangan gizi mikro dapat memberikan dampak terhadap keadaan fisik, mental, kesehatan, dan menurunkan fungsi kognitif. Dampak lain, juga dirasakan pada proses belajar mengajar, yaitu anak menjadi kurang konsentrasi, mudah lelah, mudah mengantuk, dan gangguan fisik lainnya.
Simpanan glikogen yang berasal dari makan malam sudah akan habis antara 2-4 jam setelah anak bangun pagi. Pada anak yang tidak sarapan pagi, menipisnya sediaan glikogen otot tidak tergantikan. Untuk menjaga agar kadar gula darah tetap normal, tubuh memecah simpanan glikogen dalam hati menjadi gula darah. Jika bantuan pasokan gula darah ini pun akhirnya habis, tubuh akan kesulitan memasok jatah gula daerah ke otak. Akhirnya, mengakibatkan badan gemetar, cepat lelah, dan gairah belajar menurun membuat tubuh lemas.
Menurut Almatsier (2009, hlm. 295) sarapan pagi yang mengacu pada gizi seimbang dengan pemberian makanan memenuhi zat-zat, antara lain “(1) sumber zat energi/tenaga, seperti padi, tepung, umbi-umbian, sagu, pisang, (2) sumber zat pengatur, seperti sayuran, buah-buahan, dan (3) sumber zat pembangun, seperti ikan, ayam, telur, daging, susu, kacang-kacangan”.
Sarapan pagi bermanfaat mendukung konsentrasi belajar dan memberikan kontribusi penting sejumlah zat gizi yang diperlukan tubuh. “Sarapan pagi dapat mempertahankan daya tahan saat bekerja, meningkatkan produktivitas kerja, untuk memelihara kebugaran jasmani atau ketahanan fisik, membantu memusatkan pikiran untuk belajar, dan memudahkan penyerapan pelajaran” (Depkes, 2002, hlm. 6).
Lebih lanjut, manfaat sarapan pagi dijabarkan sebagai berikut:
1. Memberi energi untuk otak
Sarapan pagi yang baik akan meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin optimal, maka gairah dan konsentrasi kerja atau belajar dapat lebih baik, sehingga berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas.
2. Meningkatkan asupan zat gizi
Sarapan pagi akan memberikan kontribusi penting akan sejumlah zat gizi yang diperlukan tubuh, seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk fungsi tubuh.
3. Meningkatkan daya ingat
Tidur semalaman membuat otak kekurangan glokusa, jika tidak mendapat glukosa yang cukup pada saat sarapan pagi, maka fungsi otak atau memori dapat terganggu.
Seseorang tidak sarapan pagi berarti perutnya dalam keadaan kosong sejak makan malam sebelumnya sampai makan siang nantinya. Ada banyak akibat yang terjadi jika seseorang tidak sarapan pagi, yaitu badan terasa lemah karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk tenaga, tidak dapat melakukan kegiatan atau pekerjaan pagi hari dengan baik, dan kebugaran jasmani atau ketahanan fisik rendah. “Bagi anak sekolah, anak yang tidak sarapan pagi tidak dapat berpikir dengan baik dan cenderung malas” (Depkes, 2002, hlm. 6). Bila anak usia sekolah tidak terbiasa sarapan pagi secara terus menerus akan mengakibatkan penurunan berat badan dan daya tahan tubuh, serta kekurangan gizi.
Secara umum, alasan anak yang tidak biasa sarapan sebelum berangkat sekolah adalah karena tidak tersedia pangan untuk disantap, pangan tidak menarik, jenis pangan yang disediakan monoton (membosankan), dan tidak cukup waktu karena harus berangkat pagi. Tidak sarapan pagi juga sering kali disebabkan kesibukan ibu bekerja dan waktu yang amat terbatas di pagi hari karena harus segera meninggalkan rumah. Bagi orang tua, khususnya ibu, masalah utama untuk membiasakan sarapan pagi pada anak adalah sulitnya membangunkan anak dari tidur untuk sarapan, sulit mengajak anak untuk sarapan, sulit meminta anak untuk menghabiskan sarapan, dan khawatir anak terlambat ke sekolah.

Referensi
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Depkes (2002). Panduan Umum Keluarga Mandiri Sadar Gizi (Kadarzi). Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Khomsan, A. (2004). Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


EmoticonEmoticon