Thursday, 18 July 2019

Model Pembelajaran Advance Organizer


Model Pembelajaran Advance Organizer
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

advance organizer

Advance organizer merupakan cara belajar memperoleh pengetahuan baru yang dikaitkan dengan pengetahuan yang ada pada pembelajaran. Artinya, setiap pengetahuan mempunyai struktur konsep tertentu yang membentuk kerangka dari sistem pemrosesan informasi yang dikembangkan dalam pengetahuan. Menurut Ausubel (dalam Suprijono, 2016, hlm. 132) “seseorang memperoleh pengetahuan terutama melalui penerimaan bukan melalui penemuan. Konsep, prinsip, dan ide atau gagasan dipresentasikan dan diterima seseorang, bukan melalui penemuan”. Pembelajaran dengan menggunakan model advance organizer dapat meningkatkan konsep siswa untuk berbagai macam konsep pelajaran dan akan lebih berguna jika konsep yang diajarkan oleh guru adalah konsep yang telah ada dalam struktur kognitif yang sesuai dalam diri siswa.
Berdasar pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan advance organizer bertujuan untuk mengarahkan para siswa pada informasi/materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan sehingga dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru.
Suprijono (2016, hlm. 135-136) mengemukakan langkah-langkah yang harus dilalui dalam melaksanakan model advance organizer, sebagai berikut:
1. Tahap pertama, penyajian advance organizer. Pada tahap ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menyajikan advance organizer, dan menumbuhkan kesadaran pengetahuan serta pengalaman siswa yang relevan. Mengklarifikasikan tujuan pembelajaran merupakan salah satu cara untuk memperoleh perhatian siswa dan mengarahkannya pada tujuan-tujuan pembelajaran. Menyajikan advance organizer gagasan dalam dirinya sendiri dan materi pelajaran harus dieksplorasi secara terampil.
2. Tahap kedua, penyajian bahan pelajaran. Pada tahap ini guru membuat organisasi secara tegas, dan urutan bahan pelajaran secara logis dan eksplisit, memelihara suasana agar penuh perhatian dan menyajikan bahan. Pada tahap membuat organisasi secara tegas dan urutan bahan pelajaran secara logis dan eksplisit, model pembelajaran advance organizer dapat menggunakan media peta konsep dalam aplikasinya. Dapat dilakukan dengan berbagai rangsangan atau menggunakan media lain untuk melengkapi presentasi.
3. Tahap ketiga, penguatan organisasi kognitif. Pada tahap ini guru menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi integratif, meningkatkan kegiatan belajar, melakukan pendekatan kritis guna memperjelas materi pelajaran dan mengklarifikasikan.
Ringkasan struktur pengajaran model advance organizer ini menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2011, hlm. 289) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tahap Pertama:
Presentasi Advance Organizer
Tahap Kedua:
Presentasi Tugas atau Materi Pembelajaran
1. Mengklarifikasi tujuan-tujuan pelajaran.
2. Mengidentifikasi karakteristik- karakteristik yang konklusif.
3. Memberi contoh-contoh.
4. Menyajikan konteks.
5. Mengulang.
1. Menyajikan materi.
2. Mempertahankan perhatian.
3. Memperjelas pengolahan menjadi.
4. Memperjelas aturan materi pembelajaran yang masuk akal.
Tahap Ketiga:
Memperkuat Pengolahan Kognitif
1. Menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi integratif.
2. Menganjurkan pembelajaran resepsi aktif.
3. Membangkitkan pendekatan kritis pada mata pelajaran kemudian mengklarifikasi.

Setiap model pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan pada penggunaannya. Menurut Suprijono (2016, hlm. 138) kelebihan model advance organizer dalam pembelajaran, antara lain:
1. Siswa dapat berinteraksi dengan memecahkan masalah untuk menemukan konsep-konsep yang dikembangkan.
2. Membangkitkan perolehan materi akademis dan keterampilan sosial siswa.
3. Mendorong peserta didik mengetahui jawaban pertanyaan yang diberikan.
4. Melatih peserta didik meningkatkan keterampilannya melalui diskusi kelompok.
5. Meningkatkan keterampilan berpikir peserta didik baik secara individual maupun kelompok.
Adapun kelemahan model pembelajaran advance organizer adalah jika tidak ada kontrol yang intensif dari guru dalam situasi jumlah siswa yang terlalu banyak, maka pembelajaran menjadi kurang efektif.

Referensi
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2011). Models of Teahing, Eighth Edition. Boston, New York, San Francisco: Pearson Education, Inc.
Suprijono, A. (2016). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


EmoticonEmoticon