Tuesday, 6 August 2019

Kesiapan Belajar


Kesiapan Belajar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

siap menghadapi pelajaran

Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. “Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respons” (Subini, dkk., 2012, hlm. 88). Di dalam hal ini kesiapan belajar merupakan keadaan awal siswa dalam memberi respons awal pada pembelajaran.
Keadaan fisik, mental, dan emosional merupakan aspek yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Senada dengan pendapat Suryabrata (1998, hlm. 232) bahwa “kesiapan sebagai persiapan untuk bertindak (ready to act)”. Dengan demikian, kesiapan merupakan perwujudan dari kematangan baik secara fisik, mental, maupun emosional untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang aktif dan mampu menjawab pertanyaan yang diberikan.
Keadaan dan kemauan siswa untuk memahami materi ajar turut mempengaruhi siswa dalam mempersiapkan diri. Menurut Darsono, dkk. (2000, hlm. 27) faktor kesiapan belajar meliputi:
1. Kondisi fisik yang tidak kondusif, misalnya sakit yang pasti akan mempengaruhi faktor-faktor lain yang dibutuhkan untuk belajar.
2. Kondisi psikologis yang kurang baik, misalnya gelisah, tertekan. Hal ini merupakan kondisi awal yang tidak menguntungkan bagi kelancaran belajar.
Adapun menurut Djamarah (2002, hlm. 35) faktor-faktor kesiapan meliputi:
1. Kesiapan fisik, misalnya tubuh tidak sakit (jauh dari gangguan lesu, mengantuk, dan sebagainya).
2. Kesiapan psikis, misalnya ada hasrat untuk belajar, dapat berkonsentrasi, dan ada motivasi intrinsik.
3. Kesiapan materiil, misalnya ada bahan yang dipelajari atau dikerjakan berupa buku bacaan, catatan, dan lain-lain.
Pada prinsipnya kesiapan belajar meliputi kesiapan siswa secara keseluruhan dengan segenap kemampuan yang telah dikuasainya. Keadaan fisik, mental, dan emosional berkaitan erat dengan pengalaman yang dimiliki siswa. Slameto (2013, hlm. 113) mengemukakan beberapa prinsip kesiapan meliputi:
1. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling berpengaruh).
2. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dari pengalaman.
3. Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan.
4. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.
Kesiapan belajar siswa memiliki tingkatan yang berbeda-beda tergantung dari keadaan fisik, mental, dan emosionalnya. Keadaan fisik mempengaruhi tingkat kematangan berpikir dan berperilaku. Usia perkembangan juga merupakan aspek yang membedakan tingkat kematangan siswa.
Ada yang dinamakan dengan hukum kesiapan (the law of readiness). Hukum ini menjelaskan tentang adanya hubungan antara kesiapan (readiness) seseorang dalam merespons, menerima, atau menolak terhadap stimulan yang diberikan. Aplikasi hukum ini dalam konteks belajar dan pembelajaran adalah bahwa pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien apabila peserta didik memiliki kesiapan belajar. Sebagai implikasinya, menurut Gintings (2012, hlm. 19) ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses pembelajaran yakni:
1. Seseorang diberi stimulan ketika belum siap menerimanya. Hasilnya orang tersebut tidak akan memberikan respons yang diharapkan dan tidak memberikan kepuasan kepada dirinya sendiri. Contoh dalam pembelajaran adalah pemberian ujian kepada siswa tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga mereka tidak siap untuk melakukannya. Hasilnya siswa tidak mengerjakan ujian tersebut dengan serius dan akan menimbulkan kekecewaan dalam diri siswa.
2. Seseorang diberi stimulan ketika benar-benar siap untuk menerimanya. Hasilnya orang tersebut akan memberikan respons positif yang diharapkan dan memberikan kepuasan kepada dirinya sendiri. Contoh dalam pembelajaran tersebut adalah penyelenggaraan praktik ketika siswa telah siap mengerjakannya karena telah menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan yang mendasari praktik tersebut, hasilnya siswa tersebut akan melakukan kegiatan praktik tersebut dengan serius dan semangat.
3. Seseorang tidak diberikan stimulan ketika telah bersiap untuk menerimanya. Hasilnya orang tersebut akan merasa kecewa dalam dirinya. Contoh dalam pembelajaran ketika siswa sudah bersiap-siap di kelas untuk mengikuti pelajaran, tetapi guru yang seharusnya mengajar saat itu karena suatu alasan tidak hadir. Akibatnya timbul kekecewaan dalam diri siswa dan memungkinkan akan meresponsnya dengan melakukan hal-hal negatif seperti membuat keributan di kelas tersebut sebagai respons negatif.
4. Seseorang tidak diberi stimulan ketika tidak siap untuk menerimanya. Hasilnya orang tersebut akan memberikan respons positif yang tidak diharapkan dan memberikan kepuasaan kepada dirinya sendiri. Contoh dalam pembelajaran adalah pembatalan tes ketika siswa belum siap untuk melakukannya. Hasilnya siswa merasa lega. Contoh lain adalah ketika siswa telah lesu pada jam pelajaran terakhir, pelajaran ketika itu ditiadakan karena ada rapat guru. Siswa akan merasa gembira dan menyambutnya dengan antusias walaupun sebenarnya mereka telah kehilangan sebagian waktu pendidikan yang seharusnya mereka terima dari sekolah.

Referensi
Darsono, dkk. (2000). Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
Djamarah, S. B. (2002). Rahasia Sukses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Gintings, A. (2012). Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora.
Slameto (2013). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Subini, N., dkk. (2012). Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Mentari Pustaka.
Suryabrata, S. (1998). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


EmoticonEmoticon