Saturday, 24 August 2019

Model Pembelajaran Discovery Learning


Model Pembelajaran Discovery Learning
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

discovery learning

Model pembelajaran discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi diharapkan siswa dapat mengorganisasi pelajaran secara mandiri. Menurut Budiningsih (2005, hlm. 43) model pembelajaran discovery learning merupakan “cara belajar memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirya sampai kepada suatu kesimpulan”.
Model discovery learning memiliki ciri tersendiri sehingga dapat ditemukan perbedaan dengan model pembelajaran lainnya. Ciri utama belajar menggunakan model discovery learning, antara lain (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan, (2) berpusat pada peserta didik, dan (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Menurut Kurniasih dan Sani (2014, hlm. 68-71) model pembelajaran discovery learning memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

1. Stimulation (stimulasi atau pemberian rangsangan)
Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi kesimpulan, agar timbul keinginan untuk menyelediki sendiri. Guru juga dapat memulai pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

2. Problem statement (pernyataan atau identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

3. Data collection (pengumpulan data)
Ketika eksplorasi berlangsung, guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, uji coba sendiri, dan sebagainya.
Pada tahap ini siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan kata lain secara tidak sengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

4. Data processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informasi diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, dengan cara tertentu serta ditafsirkan.
Pengolahan data disebut juga dengan kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapat pengetahuan baru tentang alternatif jawaban atau penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5. Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data. Berdasarkan hasil pengolahan informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu tersebut kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

6. Generalization (generalisasi atau menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat disajikan dalam prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Berdasarkan hasil verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan, siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Adapun kelebihan model pembelajaran discovery learning, di antaranya:
1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
2. Pengetahuan yang diperoleh sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian dan ingatan.
3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
4. Membantu siswa menghilangkan keragu-raguan karena mengarah pada kebenaran yang final atau pasti.
Di sisi lain, model pembelajaran discovery learning memiliki kelemahan, sebagai berikut:
1. Tidak efisien untuk mengajar siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah.
2. Kurang memperhatikan pengembangan aspek konsep, keterampilan, dan emosi secara keseluruhan.

Referensi
Budiningsih, A. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Kurniasih, & Sani (2014). Strategi-Strategi Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.


EmoticonEmoticon