Thursday, 1 August 2019

Model Pembelajaran Sinektik


Model Pembelajaran Sinektik
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sinektik


Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap anak. Setiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusia terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan.
Menurut William J. J. Gordon (dalam Joyce, Weil, dan Calhoun, 2015, hlm. 249) sinektik adalah “untuk mengembangkan kelompok-kelompok kreativitas yang dilatih untuk bekerja sama, berfungi sebagai pemecah masalah, siswa bermain dengan analogi sampai mereka santai dan menikmati, membuat semakin banyak perbandingan yang dilakukan oleh siswa-siswa, kemudian siswa menggunakan analogi untuk menyelesaikan masalah atau gagasan”. Lebih lanjut menurut William J. J. Gordon (dalam Huda, 2014, hlm. 3) bahwa “model sinektik dikembangkan dari beberapa asumsi tentang kreativitas. Asumsi pertama, dengan membawa proses kreatif menuju kesadaran dan dengan mengembangkan bantuan-bantuan menuju kreativitas, kita dapat secara langsung meningkatkan kapasitas kreatif secara individu maupun kelompok. Asumsi kedua adalah bahwa komponen emosional lebih penting daripada intelektual, irasional lebih penting daripada rasional”.
Model pembelajaran sinektik merupakan suatu model yang menarik dalam upaya peningkatan kreativitas. Model sinektik ini berorientasi pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan pengembangan kreativitas siswa. Dengan demikian, para siswa akan tersadar bahwa terdapat ragam persepsi dari masing-masing individu sehingga dapat saling menghargai satu sama lain dan dapat menyelesaikan suatu permasalahan atau gagasan.
Lima tahapan model pembelajaran sinektik yang dapat dijadikan acuan guru dan siswa saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas menurut Hosna (2013, hlm. 242-243), antara lain:
1. Tahap input, yakni mengomunikasikan topik atau materi pembelajaran. Tahap ini sangat menunjang pada keberhasilan siswa terutama saat memperoleh materi.
2. Tahap penggabungan proses analogi langsung, perbandingan, dan penjelasan perbedaan. Tahap ini diawali dengan meminta siswa mengajukan pendapat tentang materi yang sedang dibahas.
3. Tahap analogi personal. Pada tahap ini siswa diminta berperan diri menjadi suatu objek sesuai dengan materi yang dibahas.
4. Tahap eksplorasi. Di dalam tahap ini guru meminta siswa untuk menjelajahi kembali atau menjelaskan kembali topic atau materi yang dibahas sebelumnya dengan menggunakan bahasa sendiri.
5. Tahap akhir adalah memunculkan analogi baru. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat mengajukan analogi langsung yang telah dikuasainya dan mampu menjelaskan persamaan dan perbedaannya. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa.
Teknik sinektik merupakan cara yang menyenangkan untuk melibatkan siswa dalam diskusi yang imajinatif dan menghasilkan strategi pemecahan masalah yang tidak lazim, tetapi dapat dilaksanakan. Setiap topik dari bidang studi dapat dibahas dalam kelompok diskusi kecil atau besar. Melalui sinektik siswa dapat belajar strategi yang memaksa untuk memecahkan masalah. Teknik sinektik dikembangkan oleh William J. J. Gordon merupakan teknik berpikir kreatif yang menggunakan analogi dan kiasan untuk membantu pemikir menganalisis masalah dan mengembangkan berbagai sudut tinjau. Ada tiga jenis analogi yang digunakan dalam sinektik menurut Munandar (2012, hlm. 200) sebagai berikut:
1. Analogi fantasi, yaitu siswa mencari pemecahan yang ideal untuk suatu masalah, termasuk solusi yang aneh atau tidak lazim.
2. Analogi langsung, yaitu siswa diminta untuk menemukan situasi masalah sejajar dalam situasi kehidupan nyata. Pembeda dari analogi fantasi dan analogi langsung yakni bahwa analogi fantasi dapat seluruhnya bersifat fiktif, sedangkan pada analogi langsung masalahnya dikaitkan dengan kehidupan nyata.
3. Analogi pribadi, yaitu siswa menempatkan dirinya dalam peran masalah itu sendiri.
Adapun kelebihan dan kelemahan model pembelajaran sinektik menurut Mutmainnah (2016, hlm. 72) sebagai berikut:
Kelebihan:
1. Model ini bermanfaat untuk mengembangkan pengertian baru pada diri siswa tentang suatu masalah, sehingga ia sadar bagaimana bertingkah laku dalam situasi tertentu.
2. Dapat mengembangkan kejelasan pengertian dan internalisasi pada diri siswa tentang materi baru.
3. Dapat mengembangkan berpikir kreatif, baik pada diri siswa maupun guru.
4. Model ini dilaksanakan dalam suasana kebebasan intelektual dan kesamaan martabat antara siswa.
5. Model ini membantu siswa menemukan cara berpikir baru dalam memecahkan suatu masalah.
Kelemahan:
1. Sulit dilakukan oleh guru dan siswa yang sudah terbiasa menggunakan cara lama yang menekankan pada penyampaian informasi.
2. Model ini menitikberatkan pada berpikir reflektif dan imajinatif dalam situasi tertentu, maka kemungkinan besar siswa kurang menguasai fakta-fakta dan prosedur pelaksanaan atau keterampilan.
3. Kurang memadainya sarana dan prasarana pendidikan di sekolah.

Referensi
Hosna, R. (2013). Pengembangan Model Sinektik di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Ilmiah PGMI, 28(2), hlm. 240-251.
Huda, M. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2015). Models Of Teaching Ninth Edition. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Munandar, U. (2012). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Mutmainnah, U. (2016). Penerapan Model Sinektik terhadap Kreativitas Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Hijriyah Palembang. Jurnal Ilmiah PGMI, 2(1), hlm. 65-74.


EmoticonEmoticon