Sunday, 26 January 2020

Asal Mula Langsung dan Tidak Langsung Pancasila


Asal Mula Langsung dan Tidak Langsung Pancasila
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kausa Pancasila

Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, maka secara ilmiah harus ditinjau berdasarkan proses kausalitas. Maka secara kausalitas asal mula Pancasila dibedakan atas dua macam, yaitu asal mula langsung dan asal mula tidak langsung. Adapun dijabarkan lebih lanjut, sebagai berikut:

1. Asal mula langsung
Rincian asal mula langsung Pancasila dijabarkan sebagai berikut:
a. Asal mula bahan (kausa materialis)
Asal bahan Pancasila adalah pada bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam kepribadian dan pandangan hidup.
b. Asal mula bentuk (kausa formalis)
Asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI lainnya yang merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hal bentuk, rumusan, dan nama Pancasila.
c. Asal mula karya (kausa efisien)
Asal mula karya adalah PPKI sebagai pembentuk negara dan atas kuasa pembentuk negara yang mengesahkan Pancasila menjadi dasar negara yang sah.
d. Asal mula tujuan (kausa finalis)
Tujuan Pancasila adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara.

2. Asal mula tidak langsung
Secara kausalitas asal mula tidak langsung Pancasila adalah asal mula sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Unsur Pancasila tersebut sebelum secara langsung dirumuskan menjadi dasar filsafat negara, nilainya yaitu nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara yang berupa nilai adat istiadat, nilai kebudayaan, dan nilai religius. Nilai tersebut menjadi pedoman kehidupan bangsa Indonesia. Maka, asal mula tidak langsung Pancasila hakikatnya bangsa Indonesia sendiri sebagai kausa materialis.

Pada hakikatnya bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam “Tri-Prakara” atau tiga asas, sebagai berikut:
1. Bahwa unsur Pancasila sebelum disahkan menjadi dasar filsafat negara secara yuridis sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai asas dalam adat istiadat  dan kebudayaan dalam arti luas (asas kebudayaan Pancasila).
2. Unsur Pancasila telah terdapat pada bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam agama (asas religius Pancasila).
3. Setelah bangsa Indonesia merdeka, rumusan Pancasila calon dasar negara tersebut disahkan oleh PPKI sebagai dasar filsafat negara Indonesia dan terwujudlah Pancasila. (asas kenegaraan Pancasila).
Read More

Friday, 24 January 2020

Senam Zumba


Senam Zumba
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

latihan Senam Zumba

Senam zumba merupakan program kebugaran tari yang diciptakan oleh penari dan koreografer asal Kolombia, Alberto “Beto” Perez pada tahun 1990-an. Pada awalnya Beto yang hendak mengajar senam aerobik, tidak membawa CD (compact disk) irama dari senam aerobik tersebut, sehingga Beto berinisiatif untuk mengambil semua CD yang ada di mobilnya yang bergenre musik beragam, kemudian Beto mencoba untuk membuat gerakan-gerakan senam yang akan dipraktikkannya di kelas senam, setelah kelas tersebut berakhir, ia mendapat respons positif dari murid-muridnya.
Dasar gerakan zumba adalah tarian dan senam aerobik sehingga termasuk dalam kategori dance fitness. Senam zumba memberikan kemampuan membakar kalori jauh lebih banyak secara cepat, sekaligus membentuk otot tubuh. Rangkaian gerak zumba sangat menyenangkan sehingga tanpa disadari dapat menurunkan berat badan bagi yang melakukannya. Gerak senam zumba menggabungkan hip-hop, soca, samba, salsa, merengue, dan mambo. Kelas zumba biasanya berdurasi sekitar satu jam dan diajarkan oleh instruktur berlisensi.
Target latihan senam zumba adalah all core (seluruh bagian tubuh), dengan sasaran fat and calorie burning (membakar kalori). Seperti senam pada umumnya, zumba dapat membakar 400-800 kalori, namun pada tingkat mahir, senam ini dapat membakar lebih dari 1000 kalori per satu jam latihan.
Zumba melatih seluruh tubuh dari kepala hingga kaki. Gerakan senam meliputi gerakan pundak, tangan, perut, pinggul, dan kaki yang mampu meningkatkan fleksibilitas tubuh menjadi lebih baik. Pada dasarnya gerakan zumba adalah 70% dansa dan 30% fitness. Hal ini menjadikan gerakan zumba tidak diajarkan terlebih dahulu melainkan secara langsung mengikuti gerakan instruktur.
Senam zumba adalah suatu latihan fisik yang menggunakan otot-otot besar yang memiliki ciri dan kaidah khusus, yakni gerakannya dibuat secara sengaja, dibuat untuk mencapai tujuan tertentu, dan tersusun secara sistematis. Senam zumba adalah serangkaian gerak yang dipilih secara sengaja dengan cara mengikuti irama musik yang dipilih sehingga melahirkan ketentuan ritmis, kontinuitas, dan durasi tertentu.
Pada umumnya senam zumba dilaksanakan 30-60 menit dengan diiringi musik. Senam zumba dimulai dengan pemanasan 10 menit, dilanjutkan dengan latihan inti 20-40 menit, kemudian diakhiri dengan pendinginan selama 10 menit. Adapun penjelasan lebih lanjut dijabarkan, sebagai berikut:

1. Pemanasan (warming up)

Senam Zumba

Pada fase ini dapat menggunakan pola warming up yang didahului oleh kegiatan stretching (penguluran) otot-otot tubuh, dilanjutkan dengan gerakan dinamis pemanasan. Pola kedua yaitu kebalikan dari pola pertama di mana seseorang melakukan pemanasan dinamis terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan melakukan kegiatan stretching otot-otot tubuh. Kegiatan pemanasan ini memiliki tujuan, yakni meningkatkan elastisitas otot dan ligamen di sekitar persendian untuk mengurangi resiko cedera, meningkatkan suhu tubuh dan denyut nadi sehingga mempersiapkan diri agar siap menuju aktivitas utama. Pada fase ini, pemilihan gerakan harus dilakukan dan dilaksanakan secara sistematis, runtut, dan konsisten.

2. Kegiatan inti

Senam Zumba

Fase latihan ini adalah fase utama dari sistematika latihan senam zumba. Di dalam fase ini target latihan harus tercapai. Salah satu indikator latihan telah memenuhi target adalah dengan memprediksi bahwa latihan tersebut telah mencapai training zone. Training zone adalah daerah ideal denyut nadi dalam fase latihan. Rentang training zone adalah 60-90% dari denyut nadi maksimal. Denyut nadi yang dimiliki setiap orang berbeda, tergantung dari usia orang tersebut.

3. Pendinginan (cooling down)

Senam Zumba

Pada fase ini hendaknya melakukan dan memilih gerakan-gerakan yang mampu menurunkan frekuensi denyut nadi untuk mendekati denyut nadi normal, setidaknya mendekati awal latihan. Pemilihan gerakan pendinginan ini harus merupakan gerakan penurunan dari intensitas tinggi ke gerakan intensitas rendah. Perubahan dan penurunan intensitas secara bertahap tersebut berguna untuk menghindari penumpukan asam laktat yang akan menyebabkan kelelahan dan rasa pegal bagian tubuh atau otot tertentu.

Pada latihan zumba menggunakan konsep frekuensi, intensitas, waktu, dan tipe latihan atau biasa disingkat FITT (frequency, intensity, time, tipe), dijabarkan lebih lanjut, sebagai berikut:
1. Frekuensi latihan
Frekuensi menunjukkan pada jumlah latihan per minggu. Secara umum, frekuensi latihan lebih banyak, dengan program latihan lebih lama akan mempunyai pengaruh lebih baik terhadap kebugaran jasmani. Frekuensi latihan yang baik untuk endurance training adalah 2-5 kali per minggu, dan untuk anaerobic training 3 kali per minggu. Sebaiknya dilakukan berselang, misalnya Senin-Rabu-Jumat-Minggu sedangkan hari yang lain digunakan untuk istirahat agar tubuh memiliki kesempatan melakukan recovery (pemulihan tenaga).
Latihan dengan frekuensi tinggi membua tubuh tidak cukup waktu untuk pemulihan. Kegagalan menyediakan pemulihan yang memadai akan dapat menimbulkan cedera. Tubuh membutuhkan waktu untuk bereaksi terhadap rangsangan latihan pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari 24 jam. Semakin bertambah usia semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan.
2. Intensitas latihan
Intensitas latihan merupakan kualitas yang menunjukkan berat ringannya suatu latihan. Besarnya intensitas tergantung pada jenis dan tujuan latihan. Besarnya intensitas tergantung pada jenis dan tujuan latihan.
3. Durasi latihan
Durasi latihan adalah waktu yang diperlukan setiap kali latihan. Untuk meningkatkan kebugaran paru-jantung dan penurunan berat badan diperlukan waktu berlatih 30-60 menit. Durasi dan intensitas latihan saling berhubungan. Peningkatan salah satunya akan menurunkan yang lain. Jika durasi latihan bertambah, maka intensitas latihan akan menurun begitu pula sebaliknya.
4. Tipe latihan
Tipe latihan adalah bentuk atau model olahraga yang digunakan untuk latihan. Sebuah latihan akan berhasil jika latihan tersebut dipilihkan tipe yang tepat. Tipe latihan akan menyangkut isi dan bentuk-bentuk latihan.
Zumba termasuk dalam latihan aerobik dengan metode interval training karena saat melakukan latihan diselingi dengan istirahat. Senam zumba merupakan bentuk penerapan dari metode HIIT (high intensity interval training), yakni latihan kardio yang dilakukan dalam waktu singkat dengan intensitas yang tinggi, sehingga sangat membantu dalam mengintegrasikan komponen dasar kebugaran daya tahan kardio, kekuatan otot, dan fleksibilitas.
Read More

Tuesday, 21 January 2020

Pedoman Penggunaan Tanda Baca Elipsis


Pedoman Penggunaan Tanda Baca Elipsis
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

tanda elipsis

Penggunaan tanda baca elipsis merupakan hal yang harus diperhatikan dalam menulis. Penggunaan tanda baca elipsis yang baik dan benar diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Adapun penggunaan tanda baca elipsis digunakan pada sejumlah hal berikut:

1. Tanda baca elipsis digunakan untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan
Misalnya:
a. Penyebab kemerosotan ...  akan diteliti lebih lanjut.
b. ..., lain lubuk lain ikannya.
c. Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa negara ialah ....

2. Tanda baca elipsis digunakan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog
Misalnya:
a. “Menurut saya ... seperti ... bagaimana, Bu?”
b. “Jadi, simpulannya ... oh, sudah saatnya istirahat”.

Sebagai catatan pada penggunaan tanda baca elipsis, sebagai berikut:
1. Tanda baca elipsis didahului dan diikuti dengan spasi.
2. Tanda baca elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).

Referensi
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Read More

Monday, 20 January 2020

Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE)


Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

POE

Model pembelajaran predict observe explain (POE) adalah suatu model pembelajaran di mana guru menggali pemahaman peserta didik dengan cara meminta mereka melaksanakan tiga tugas utama, yaitu memprediksi, mengamati, dan memberikan penjelasan. Menurut Indrawati dan Setiawan (2009, hlm. 45) model pembelajaran predict observe explain (POE) merupakan “model pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, peserta didik diajak untuk menduga atau membuat prediksi dari suatu kemungkinan yang terjadi dengan pola yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap masalah tersebut untuk dapat menemukan kebenaran atau fakta dari dugaan awal dalam bentuk penjelasan”. Sedangkan menurut Sudiadnyani (2013, hlm. 3) model pembelajaran predict observe explain (POE) ini “dapat melatih peserta didik untuk aktif terlebih dahulu mencari pengetahuan sesuai dengan cara berpikirnya dengan menggunakan sumber-sumber yang dapat memudahkan dalam pemecahan masalah”.
Model pembelajaran predict observe explain (POE) pertama kali diperkenalkan oleh White dan Gusnstone pada tahun 1995 dalam bukunya yang berjudul “Probing Understanding”. Model ini merupakan langkah efisien untuk menciptakan diskusi antar peserta didik mengenai konsep ilmu pengetahuan. “Model ini melibatkan peserta didik dalam memprediksi atau menduga suatu fenomena, melakukan observasi, dan akhirnya menjelaskan hasil observasi serta prediksi mereka” (Restami, 2013, hlm. 3).
Menurut Indrawati dan Setiawan (2009, hlm. 45) model pembelajaran predict observe explain (POE) menggali pemahaman konsep ilmu pengetahuan peserta didik melalui tiga langkah utama, sebagai berikut:
1. Predict (membuat prediksi) merupakan suatu proses membuat dugaan terhadap suatu peristiwa atau fenomena. Peserta didik memprediksi jawaban dari suatu permasalahan yang dipaparkan oleh guru, kemudian peserta didik menuliskan prediksi tersebut beserta alasannya. Peserta didik menyusun dugaan awal berdasarkan pengetahuan awal yang mereka miliki.
2. Observe (mengamati) merupakan suatu proses peserta didik melakukan pengamatan mengenai apa yang terjadi. Peserta didik melakukan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Peserta didik mencatat apa yang mereka amati, mengaitkan prediksi mereka sebelumnya dengan hasil pengamatan yang mereka peroleh.
3. Explain (menjelaskan) merupakan suatu proses peserta didik memberikan penjelasan mengenai kesesuaian antara dugaan dengan hasil pengamatan yang mereka lakukan.
Model pembelajaran predict observe explain (POE) menurut Hakim (dalam Apriliantika, 2012, hlm. 9-10) memiliki tiga langkah umum secara terperinci dijabarkan, sebagai berikut:
1. Membuat prediksi atau dugaan (predict)
a. Guru menyajikan suatu permasalahan atau persoalan.
b. Peserta didik diminta untuk membuat dugaan atau prediksi. Di dalam membuat dugaan, peserta didik diminta untuk berpikir tentang alasan mengapa ia membuat dugaan seperti demikian.
2. Melakukan observasi (observe)
a. Peserta didik diajak guru melakukan pengamatan berkaitan dengan permasalahan yang telah disajikan.
b. Peserta didik diminta mengamati apa yang terjadi.
c. Kemudian peserta didik menguji apakah dugaan yang mereka buat benar atau salah.
3. Menjelaskan (explain)
a. Bila dugaan peserta didik ternyata terjadi dalam pengamatan, guru dapat merangkum dan memberi penjelasan tambahan untuk menguatkan hasil pengamatan yang dilakukan.
b. Bila dugaan peserta didik tidak terjadi dalam pengamatan, maka guru membantu peserta didik mencari penjelasan mengapa dugaan tersebut tidak benar.
c. Guru dapat membantu peserta didik untuk mengubah dugaannya dan membenarkan dugaan yang semula belum tepat.
Adapun kelebihan dari penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) menurut Yupani (2013, hlm. 3), antara lain:
1. Merangsang peserta didik untuk lebih kreatif, khususnya dalam mengajukan prediksi.
2. Mengurangi verbalisme dengan melakukan eksperimen untuk menguji prediksi.
3. Proses pembelajaran lebih menarik sebab peserta didik tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengamati peristiwa yang terjadi melalui eksperimen.
4. Melalui pengamatan langsung, peserta didik memiliki kesempatan untuk membandingkan dugaan dengan kanyataan. Dengan demikian, peserta didik akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE), di antaranya:
1. Memerlukan persiapan yang matang, terutama dalam penyajian permasalahan dan kegiatan eksperimen yang dilakukan untuk membuktikan prediksi yang diajukan peserta didik.
2. Memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai.
3. Melakukan kegiatan eksperimen memerlukan kemampuan dan keterampilan khusus bagi guru.

Referensi
Aprliantika, P. (2012). Efektivitas Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) pada Materi Reaksi Oksidasi Reduksi dalam Meningkatkan Keterampilan Mengomunikasikan dan Menyimpulkan. (Skripsi). Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Indrawati, & Setiawan, W. (2009). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Resmati, M. P. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Sikal Ilmiah Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa. (Tesis). Singaraja: Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Sudiadnyani, P. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas IV SD di Kelurahan Banyuasri. (Tesis). Singaraja: Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Yupani, N. P. E. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE) Berbantuan Materi Bermuatan Kearifan Lokal terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV. (Skripsi). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Read More

Kategori