Friday, 6 December 2019

Mobilitas Sosial


Mobilitas Sosial
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pergerakan sosial

Mobilitas sosial adalah bentuk perpindahan status dan peranan seseorang atau sekelompok orang dari kelas sosial yang lebih rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi atau sebaliknya (vertikal) atau juga perpindahan kelas sosial dengan derajat yang searah (horizontal). Mobilitas sosial dapat berupa peningkatan atau penurunan dari segi status dan peranan seseorang atau sekelompok orang yang biasanya dilihat dari segi penghasilan yang diperolehnya.
Tingkat mobilitas sosial pada masing-masing masyarakat berbeda-beda. Pada masyarakat yang bersistem kelas sosial terbuka, maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung tinggi. Tetapi, sebaliknya pada sistem kelas sosial tertutup, misalnya masyarakat feodal atau masyarakat bersistem kasta, maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung sangat rendah dan sangat sulit diubah atau bahkan sama sekali tidak ada.
Mobilitas sosial dipandang sebagai salah satu gejala yang ditujukan pada gerak berpindahnya status sosial satu ke status sosial lainnya. Gerak sosial diartikan sebagai gerak dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi kelompok sosial. Struktur sosial sendiri mencakup sifat-sifat dari hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dan kelompoknya. Tipe-tipe gerak sosial pada prinsipnya terdapat dua macam, yakni:
1. Gerak sosial horizontal, yaitu peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya, dari kelompok sosial satu ke kelompok sosial lainnya dalam posisi yang sederajat.
2. Gerak sosial vertikal, yaitu perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial yang satu ke kedudukan sosial lainnya dalam posisi yang tidak sederajat. Berdasar arahnya, dalam gerak sosial vertikal dibedakan menjadi dua macam, yakni gerak sosial naik (social climbing) dan gerak sosial turun (social sinking).
Kedua macam mobilitas sosial ini dijelaskan lebih detail, sebagai berikut:

1. Mobilitas sosial horizontal
Mobilitas sosial horizontal adalah peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya, dari kelompok sosial satu ke kelompok sosial lainnya dalam posisi yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosial horizontal. Ciri utama mobilitas sosial horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan.

2. Mobilitas sosial vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial yang satu ke kedudukan sosial lainnya dalam posisi yang tidak sederajat. Berdasarkan arah perpindahan individu atau objek dari kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya pada mobilitas sosial vertikal terbagi atas dua, antara lain:
a. Mobilitas sosial meningkat (social climbing), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi. Misalnya seorang staf yang dipromosikan naik pangkat menjadi kepala bagian di sebuah perusahaan.
b. Mobilitas sosial menurun (social sinking), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial yang lebih rendah posisinya. Misalnya, seorang pengusaha yang jatuh miskin karena bangkrut.
Pitrim A. Sorokin (dalam Dwi dan Bagong, 2010, hlm. 210-211) mengemukakan bahwa di dalam mobilitas vertikal dapat dilakukan lewat beberapa saluran penting, seperti:
a. Angkatan bersenjata
Di dalam keadaan perang di mana setiap negara menghendaki kemenangan, maka jasa seorang prajurit tanpa melihat statusnya akan dihargai dalam masyarakat. Karena jasanya dapat memenangkan peperangan, maka kemungkinan dapa menanjak kedudukannya dan dapat memperoleh kekuasaan dan wewenang tertentu.
b. Lembaga-lembaga pendidikan
Pada umumnya lembaga pendidikan dinilai merupakan saluran yang konkrit dari mobilitas vertikal, bahkan lembaga pendidikan formal dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan rendah ke kedudukan yang lebih tinggi.
c. Lembaga-lembaga keagamaan
Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat, akan tetapi pemuka-pemuka agama selalu berusaha keras untuk menaikkan mereka yang berkedudukan rendah ke kedudukan yang lebih tinggi.
d. Organisasi politik
Saluran ini dalam banyak kasus terbukti memberi kesempatan yang cukup besar bagi setiap anggotanya untuk naik dalam tangga kedudukan dalam masyarakat.
e. Organisasi ekonomi
Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahaan maupun jasa, umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas vertikal.

Referensi
Dwi, N. J., & Bagong, S. (2010). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media Group.
Read More

Wednesday, 4 December 2019

Cerita Pendek Anak Tiga Bahasa (Indonesia-Sunda-Inggris) Kisah Pohon Apel-Carita Tangkal Apel-The Story of Apple Tree


Kisah Pohon Apel
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Cerita Pendek Anak Tiga Bahasa (Indonesia-Sunda-Inggris) Kisah Pohon Apel-Carita Tangkal Apel-The Story of Apple Tree

Suatu ketika, terdapat sebuah pohon apel yang sangat besar, rimbun, dan banyak sekali berbuah apel yang manis serta berwarna merah. Ada seorang anak kecil yang senang sekali bermain di sekitar pohon tersebut.
Namun, beranjak semakin remaja, anak kecil tersebut sudah tidak lagi bermain di sekitar pohon, dan membuat pohon apel bersedih.
Suatu hari, anak kecil yang sudah tumbuh remaja datang ke tempat pohon apel. “Hai anak muda kemarilah bermain-main di sekelilingku”, kata  pohon apel.
“Aku tidak sempat bermain, aku kelaparan, tidak punya uang, dan aku tidak tahu harus berbuat apa”, ucap  anak tersebut. “Kalau begitu ambillah semua buahku, dan juallah di pasar”, tawar pohon apel.
Anak tersebut senang sekali, ia mengambil semua buah apel dan menjualnya di pasar hingga ia bisa mendapatkan uang.
Lama semenjak itu, anak tersebut tidak pernah datang lagi dan membuat pohon apel kesepian kembali. Beberapa tahun setelahnya anak tersebut kembali, dan pohon apel merasa senang sekali.
“Hai anak muda, kemarilah dan bermain di sekitarku”, kata pohon apel. “Aku tidak punya waktu bermain, rumahku habis kebakaran, dan aku serta anak istriku tidak memiliki rumah lagi sekarang,” ujar anak tersebut yang kini telah menjadi dewasa.
“Kalau begitu potong saja batangku untuk dijadikan rumah”, ucap pohon apel. Anak tersebut yang kini sudah dewasa sangat gembira. Ia langsung memotong habis batang pohon dan hanya menyisakan sedikit batang serta akarnya.
Bertahun-tahun lamanya anak tersebut tidak pernah kembali lagi. Pohon apel benar-benar merasa kesepian. Namun, suatu hari anak tersebut kembali lagi, wajahnya sudah tua, tubuhnya sudah bungkuk.
Meski begitu,  pohon apel masih tetap mengenalinya. “Apa lagi yang kau butuhkan? Aku sudah tidak memiliki apa-apa. Buahku sudah habis, batangku pun sudah kau tebang. Aku hanya memiliki akar saat ini”, ucap pohon apel.
“Aku hanya membutuhkan tempat beristirahat untuk tempat tinggal abadiku. Dan aku memilih tempat ini di dekatmu. Karena kamu adalah teman terbaikku” ungkap anak tersebut yang kini sudah tua.
Pohon apel senang sekali mendengarnya. Anak yang sudah menjadi kakek-kakek itu pun meninggal dan dikuburkan di dekat pohon apel tersebut.

Carita Tangkal Apel
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Cerita Pendek Anak Tiga Bahasa (Indonesia-Sunda-Inggris) Kisah Pohon Apel-Carita Tangkal Apel-The Story of Apple Tree

Hiji waktu, aya hiji tangkal apel nu gedé pisan, leubeut, tur buahan apel nu beureum jeung amis. Aya hiji budak leutik nu resep pisan ulin di handapeun tangkal éta.
Mung, beuki rumaja, budak leutik éta geus teu pernah deui ulin di handapeun tangkal apel, hal éta nyieun tangkal apel sedih.
Hiji poé, budak leutik nu geus rumaja éta datang ka tempat tangkal apel. “Hei budak ngora, kadieu ulin di handapeun kuring”, ceuk tangkal apel.
“Kuring teu sempet ulin, kuring kalaparan, teu boga duit, jeung kuring teu apal naon nu kudu dilakukeun”, saur budak éta. “Mun kitu, yeuh bawa kabéh buah kuring, jual ka pasar”, tawar tangkal apel.
Budak éta gumbira pisan, manéhna mawa sakabéh buah apel tuluy dijual ka pasar jang ngahasilkeun duit.
Lila tidinya, budak éta teu pernah deui datang, hal éta nyieun tangkal apel kasepian deui. Sababaraha taun saenggesna, budak éta balik deui, hal éta nyieun tangkal apel gumbira pisan.
“Hai budak ngora, kadieu ulin di handapeun kuring”, ceuk tangkal apel. “Kuring geus teu boga waktu jang ulin, imah kuring geus kaduruk. Kuring, pamajikan, jeung anak kuring keur bingung da teu boga deui imah ayeuna”, ceuk budak éta nu geus jadi bapa-bapa.
“Mun kitu, potong wé batang kuring jang dijieun imah”, ceuk tangkal apel. Budak éta nu ayeuna geus jadi bapa-bapa gumbira pisan. Manéhna tuluy motong béak batang tangkal jeung kur nyésakeun saeutik batang jeung akarna.
Mangtaun-taun lilana budak éta teu pernah balik deui. Tangkal apel bener-bener ngarasa kasepian. Mung, hiji poé budak éta balik deui, beungeutna geus kariput, awakna geus bongkok.
Masing kitu, tangkal apel masih tetep wawuh. “Naon deui nu ku manéh butuhkeun? Kuring geus teu boga nanaon. Buah kuring geus béak, batang kuring gé geus dituar. Kuring kur boga sésa akar ayeuna”, ceuk tangkal apel.
“Kuring kur butuh tempat jang istirahat salilana. Kuring milih tempat ieu di deukeut manéh. Kusabab manéh téh sobat kuring”, saur budak éta nu ayeuna geus kolot.
Tangkal apel gumbira pisan ngadangu éta. Budak nu geus jadi aki-aki éta tuluy maot jeung dikuburkeun di deukeut tangkal apel éta.

The Story of Apple Tree
Created by: Rizki Siddiq Nugraha

Cerita Pendek Anak Tiga Bahasa (Indonesia-Sunda-Inggris) Kisah Pohon Apel-Carita Tangkal Apel-The Story of Apple Tree

Once upon a time, there was an apple tree that was very large, lush, and have a lot of sweet red apples. There is a small child who likes to play around the tree.
However, when growing older, the child no longer plays around the tree, and makes the apple tree sad.
One day, a young child who had grown up a teenager came to the apple tree place. "Hi young people, come and play around me," said the apple tree.
"I didn't have time to play, I was starving, I didn't have money, and I didn't know what to do," said the child. "Then take all of my fruit, and sell it at the market," bargain the apple tree.
The boy was very happy,  he took all the apples and sold them on the market, so he could get money.
For a long time, the child never came back and made the apple tree lonely. A few years later the child returned, and the apple tree was very happy.
"Hi young man, come and play around me," said the apple tree. "I don't have time to play, my house is burn out, and my wife also my child don't have a home now," said the child who is now become an adult.
"Then just cut my trunk to make a house," said the apple tree. The child who is now an adult is very happy. He immediately cut off the trunk of the tree and leaving only a few trunks and roots.
Several years the child never returned. Apple trees really feel lonely. However, one day the child returned, his face was old, his body was bent.
Even so, the apple tree still recognizes him. "What else do you need? I have nothing. My fruit is gone, you cut my trunk. I only have roots now, "said the apple tree.
"I just need a place to rest for my eternal shelter. And I chose this place near you. Because you are my best friend "said the child who is now old.
The apple tree is very happy to hear that. The child who had become an very old died and was buried near the apple tree.
Read More

Monday, 2 December 2019

Peristiwa Bandung Lautan Api


Peristiwa Bandung Lautan Api
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

bandung lautan api

Bandung Lautan Api adalah sebuah sebutan untuk peristiwa terbakarnya kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia dalam upaya menjaga kemerdekaan Indonesia. Pembakaran ini dilakukan oleh masyarakat Bandung sebagai bentuk respons atas ultimatum oleh sekutu yang memerintahkan untuk mengosongkan Bandung.
Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Peristiwa ini dilakukan oleh masyarakat Bandung yang diperkirakan berjumlah 200.000 orang. Dalam waktu tujuh jam, mereka melakukan pembakaran rumah serta harta benda mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bandung.
Peristiwa Bandung Lautan Api ini dilatarbelakangi banyak hal, antara lain:
1. Brigade MacDonald atau sekutu menuntut masyarakat Bandung agar menyerahkan seluruh hasil dari pelucutan senjata Jepang kepada pihak sekutu.
2. Sekutu mengeluarkan ultimatum yang berisi memerintahkan agar kota Bandung bagian utara dikosongkan paling lambat tanggal 29 November 1945.
3. Sekutu membagi Bandung menjadi dua sektor, yaitu sektor utara dan sektor selatan.
4. Rencana pembangunan kembali markas sekutu di Bandung.
Secara kronologis, peristiwa Bandung Lautan Api berawal saat pasukan sekutu mendarat di Bandung. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada Oktober 1945. Para pejuang Bandung saat itu tengah gencar-gencarnya merebut senjata serta kekuasaan dari tangan Jepang.
Hubungan pemerintah Republik Indonesia dengan sekutu juga sedang tegang. Di saat seperti itu, pihak sekutu menutut agar seluruh senjata api yang ada di tangan masyarakat, kecuali Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi, diserahkan pada pihak sekutu. Hal ini ditegaskan lewat ultimatum yang dikeluarkan pihak sekutu. Isi ultimatum tersebut, yakni agar senjata hasil pelucutan Jepang segera diserahkan pada sekutu serta masyarakat Indonesia segera mengosongkan kota Bandung bagian utara paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk keamanan rakyat.
Ditambah lagi, orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan juga mulai melakukan tindakan-tindakan yang menganggu keamanan rakyat. Hal semacam ini juga semakin mendorong adanya bentrokan bersenjata. Saat malam tanggal 21 November 1945, TKR serta sebagian badan perjuangan Indonesia melancarkan serangan pada Inggris di wilayah Bandung bagian utara. Hotel Hotman dan Hotel Preanger yang digunakan Inggris sebagai markas tidak luput dari serangan.
Menanggapi serangan ini, tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum pada Gubernur Jawa Barat. Ultimatum ini berisi agar Bandung bagian utara dikosongkan oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga pasukan bersenjata. Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tidak menghiraukannya, sehingga pecahlah pertempuran pada tanggal 6 Desember 1945.
Selanjutnya, pada tanggal 23 Maret 1946, sekutu kembali mengulang ultimatumnya. Sekutu memerintahkan agar Tentara Republik Indonesia (TRI) segera meninggalkan kota Bandung. Mendengar ultimatum ini, pemerintah Indonesia di Jakarta kemudian mengintruksikan agar TRI mengosongkan kota Bandung untuk keamanan rakyat.
Walau demikian, perintah ini berbeda dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta. Dari Yogyakarta, keluar intruksi agar terus bertahan di Bandung. Kondisi di Bandung menjadi semakin genting. Situasi kota ini dipenuhi kepanikan. Para pejuang juga bingung dalam mengikuti intruksi yang berbeda dari pusat Jakarta serta Yogyakarta. Pada akhirnya, para pejuang Indonesia memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran pada sekutu di tanggal 24 Maret 1946.
Para pejuang Indonesia menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi kota Bandung bagian utara. Setelah berhasil membumihanguskan kota Bandung bagian utara, barulah mereka mundur. Aksi ini dilakukan oleh 200.000 orang selama 7 jam. Keadaan Bandung yang dipenuhi dengan kobaran api laksana lautan inilah yang membuat peristiwa tersebut dijuluki dengan sebutan Bandung Lautan Api.
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung lalu meninggalkannya dengan alasan tertentu. Maksudnya, yaitu untuk mencegah tentara sekutu memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Operasi pembakaran Bandung ini dikatakan sebagai operasi “bumihangus”. Keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung diambil lewat musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3), yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, tanggal 23 Maret 1946.
Hasil musyawarah itu lalu diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, pada hari itu juga, rombongan besar masyarakat Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para penduduknya pergi meninggalkan Bandung.
Dengan terbakarnya kota Bandung, maka sekutu tidak bisa memakai Bandung sebagai markas strategis militer. Operasi bumihangus ini membuat asap hitam mengepul tinggi menyelimuti kota Bandung. Semua listrik turut padam.
Di dalam kondisi genting ini, tentara Inggris juga menyerang sehingga pertempuran sengit tidak terhindarkan. Pertempuran terbesar berlangsung di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Di tempat inilah adanya gudang amunisi besar milik tentara sekutu.
Rupanya, pejuang Indonesia Muhammad Toha serta Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) memperoleh misi penghancurkan gudang amunisi itu. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang senjata itu dengan dinamit. Walau demikian, kedua milisi itu turut terbakar di dalam gudang besar yang diledakkannya itu.
Awalnya, staf pemerintahan kota Bandung merencanakan untuk tetap berada di dalam kota. Akan tetapi, untuk keselamatan mereka, maka pukul 21.00 itu, mereka juga turut dalam rombongan yang dievakuasi dari Bandung. Mulai sejak saat itu, sekitar pukul 24.00, Bandung kosong dari masyarakat serta TRI. Sementara, api masihlah membumbung membakar kota, hingga Bandung menjadi lautan api.
Istilah atau sebutan ‘Bandung Lautan Api’ pada peristiwa ini muncul di harian Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946. Ketika peristiwa pembakaran itu terjadi, seorang wartawan muda, Atje Bastaman, menyaksikannya dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak tersebut, Atje Bastaman melihat Bandung memerah mulai dari Cicadas sampai ke Cimindi. Karena itu, begitu ia tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan penuh semangat segera menuliskan berita mengenai peristiwa ini serta memberinya judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Akan tetapi, kurangnya ruang untuk tulisan judulnya membuat ia harus membuat judulnya jadi lebih pendek, yaitu menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.
Read More

Sunday, 1 December 2019

Sistem Informasi Pengadaan Barang/Jasa di Sekolah (SIPLah)


Sistem Informasi Pengadaan Barang/Jasa di Sekolah (SIPLah)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

SIPLah

Sistem Informasi Pengadaan Barang/Jasa di Sekolah (SIPLah) digunakan untuk pengadaan barang/jasa yang dananya bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan/atau dana lain yang ketentuan pengadaannya dilakukan secara daring (online) melalui SIPLah dengan penetapan oleh pejabat sesuai kewenangannya.
Jenis barang/jasa melalui SIPLah terdiri atas (1) barang/jasa umum dan (2) barang/jasa yang dinilai strategis. Adapun kriteria barang/jasa yang dinilai strategis, sebagai berikut:
1. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional dan/atau indikator kinerja utama Kementerian.
2. Memerlukan penilaian kualifikasi teknis dan harga.
3. Berpengaruh terhadap reputasi pemerintah atau Kementerian, dan/atau
4. Memerlukan tingkat ketersediaan yang memadai.
Barang/jasa yang dinilai strategis tersebut ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian.
Pencantuman dan nilai transaksi barang/jasa melalui SIPLah dilakukan dengan metode, sebagai berikut:
1. Untuk barang/jasa umum dilakukan dengan ketentuan:
a. Pencantuman dilakukan tanpa proses pemilihan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
b. Pengadaan dengan nilai transaksi paling banyak sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
2. Untuk barang/jasa yang dinilai strategis dengan ketentuan:
a. Pencantuman dilakukan dengan proses pemilihan.
b. Pengadaan dengan nilai transaksi paling banyak sebesar Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).
Barang/jasa yang dicantumkan di dalam SIPLah dapat berasal dari usulan pimpinan satuan kerja di kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah, dengan ketentuan:
a. Ditujukan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian dengan dilengkapi (1) jenis, (2) pekiraan waktu penggunaan, (3) referensi harga, (4) informasi produksi, dan (5) persyaratan penyedia.
b. Sekretaris Jenderal Kementerian melakukan evaluasi terhadap kelayakan usulan barang/jasa sesuai dengan kriteria barang/jasa SIPLah, yaitu barang/jasa yang legal sesuai ketentuan komponen pembiayaan dana BOS dan/atau komponen pembiayaan dana lainnya.
c. Di dalam hal hasil evaluasi dinyatakan barang/jasa memenuhi kriteria, Sekretaris Jenderal Kementerian memerintahkan Kepala Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) untuk menetapkan kelompok kerja pemilihan.
d. Di dalam hal hasil evaluasi dinyatakan barang/jasa tidak memenuhi kriteria, Sekretaris Jenderal Kementerian mengirimkan surat pemberitahuan kepada pihak pengusul.
Tata cara pemilihan barang yang dinilai strategis, dilakukan dengan:
1. Negosiasi
Negosiasi dilakukan untuk barang/jasa yang memiliki kriteria:
a. Kebutuhan barang/jasa melebihi kemampuan dari satu penyedia.
b. Spesifikasi teknis dan kualitas barang/jasa beragam.
c. Barang/jasa yang harganya sudah dipublikasi melalui media cetak dan elektronik.
d. Penyedia tunggal, dan/atau
e. Barang/jasa lain berdasarkan penilaian kelompok kerja pemilihan bahwa pelaksanaan pemilihan akan lebih efektif, efisien, atau mudah apabila menggunakan metode negosiasi.
Tahapan pemilihan dengan metode negosiasi, meliputi:
a. Pengumuman.
b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen pemilihan.
c. Pemasukan dokumen penawaran.
d. Evaluasi kualifikasi dan administrasi.
e. Pembuktian kualifikasi.
f. Pembuatan berita acara hasi evaluasi kualifikasi, evaluasi administrasi, dan pembuktian kualifikasi.
g. Evaluasi dan klasifikasi teknis serta harga.
h. Negosiasi teknis dan harga.
i. Pembuatan berita acara hasil evaluasi dan klasifikasi teknis serta negosiasi teknis dan harga.
j. Pembuatan berita acara hasi pemilihan penyedia.
k. Penetapan penyedia.
l. Penyampaian hasil pemilihan penyedia kepada kepala UKPBJ untuk dilakukan reviu.
m. Penyampaian hasil reviu dari kepala UKPBJ kepada Sekretaris Jenderal Kementerian.
o. Penandatanganan kontrak SIPLah.
p. Pencantuman barang/jasa ke dalam SIPLah.
2. Tender
Tender dilakukan untuk barang/jasa yang memiliki kriteria:
a. Kebutuhan barang/jasa tidak melebihi kemampuan dari satu penyedia.
b. Spesifikasi teknis dan kualitas barang/jasa tidak beragam.
c. Terdapat beberapa penyedia, dan/atau
d. Barang/jasa lain berdasarkan penilaian kelompok kerja pemilihan bahwa pelaksanaan pemilihan akan lebih efektif, efisien, atau mudah apabila menggunakan metode tender.
Tahapan pemilihan dengan metode tender, meliputi:
a. Pengumuman tender.
b. Pendaftaran dan pengunduhan dokumen.
c. Pemberian penjelasan.
d. Penyampaian dokumen penawaran.
e. Pembukaan dokumen penawaran administrasi, teknis, harga, dan dokumen kualifikasi.
f. Evaluasi administrasi, teknis, harga, dan kualifikasi.
g. Pembuktian kualifikasi.
h. Penetapan dan pengumuman pemenang.
i. Masa sanggah.
j. Masa sanggah banding untuk pekerjaan konstruksi.
k. Laporan pokja pemilihan kepada PPK.
Tata cara pembelian barang/jasa melalui SIPLah terdiri atas tiga proses bisnis utama, yaitu registrasi penyedia, pelaksanaan belanja, dan serah terima/pembayaran. Dijelaskan lebih lanjut, sebagai berikut:
1. Registrasi penyedia
a. Penyedia melakukan akses ke laman SIPLah melalui https://siplah.kemdikbud.go.id/
b. Penyedia memilih dan membuka salah satu/beberapa laman operator pasar daring.
c. Penyedia mengisi data, sebagai berikut:
(1) Badan usaha mengisi data, antara lain (a) nama resmi, (b) nomor pokok wajib pajak, (c) alamat lengkap, (d) nama penandatangan, (e) jabatan penandatangan, (f) nomor telepon, (g) alamat surat elektronik, dan (h) nomor rekening.
(2) Individu mengisi data, antara lain (a) nama resmi, (b) nomor induk kependudukan, (c) nomor pokok wajib pajak, (d) alamat lengkap, (e) nomor telepon, (f) alamat surat elektronik, dan (g) nomor rekening.
d. Operator pasar daring melakukan verifikasi terkait data yang dikirimkan.
e. Di dalam hal penyedia terverifikasi, operator pasar daring mengirimkan notifikasi penyedia atas keberhasilan registrasi.
2. Pelaksanaan belanja
a. Sekolah melakukan akses laman SIPLah melalui https://siplah.kemdikbud.go.id/ dan log in menggunakan akun Dapodik.
b. Sekolah melakukan pencarian penawaran barang/jasa.
c. Sekolah dapat melakukan perbandingan penawaran barang/jasa melalui SIPLah, menurut barang/jasa, harga, pengiriman, penjual.
d. Sekolah memasukkan permintaan negosiasi.
e. Di dalam hal penyedia menyepakati negosiasi, penyedia mengirimkan kesepakatan negosiasi kepada sekolah.
f. Di dalam hal penyedia tidak menyepakati negosiasi, penyedia mengirimkan penolakan negosiasi kepada sekolah.
g. Di dalam hal penyedia tidak memberikan tanggapan dalam waktu 1x24 jam, sekolah dapat membatalkan pesanan.
h. Sekolah melakukan pesanan berdasarkan hasil kesepakatan bersama.
i. Penyedia melakukan pesetujuan pesanan.
j. Sekolah menerima notifikasi dan dapat melakukan pemantauan status pesanan, disetujui oleh penjual, diproses oleh penjual, dikirim oleh penjual, status proses pengiriman atas hasil pemantauan pembeli masih dapat melakukan pembatalan pesanan.
3. Serah terima dan pembayaran
a. Serah terima barang/jasa dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Pada saat pengiriman barang ke sekolah, penyedia melampirkan dokumen berita acara serah terima (BAST), yang telah ditandatangani oleh penyedia.
(2) Sebelum menandatangani BAST, bendahara sekolah melakukan pemeriksaan atas hasil pengadaan barang/jasa.
(3) Apabila barang yang dikirim tidak sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam kontrak/perjanjian, bendahara sekolah meminta penyedia untuk memperbaiki dan/atau melengkapi kekurangan dalam jangka waktu yang disepakati bersama.
(4) Di dalam hal pekerjaan telah sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam spesifikasi kontrak/perjanjian, bendahara sekolah menandatangani BAST.
(5) Bendahara sekolah menyimpan BAST sebagai kelengkapan dokumen pertanggungjawaban.
b. Pembayaran dilakukan dengan ketentuan, sebagai berikut:
(1) Di dalam hal bendahara sekolah menandatangani BAST, bendahara sekolah mengajukan permohonan pembayaran kepada kepala sekolah.
(2) Kepala sekolah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen permintaan pembayaran.
(3) Di dalam hal kepala sekolah menyetujui, bendahara sekolah melakukan pembayaran secara nontunai.

Referensi
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 35 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permendikbud Nomor 3 Tahun 2019 tentang Juknis BOS Reguler.
Read More

Kategori