Saturday, 26 October 2019

Bimbingan Belajar


Bimbingan Belajar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

layanan Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan salah satu bidang bimbingan dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan menurut Crow dan Crow (dalam Prayitno, 2004, hlm. 94) adalah “bantuan yang diberikan oleh seseorang, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri, dan menanggung bebannya sendiri. Sementara menurut Bimo Walgito (2004, hlm. 5) “bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya”.
Berdasarkan sejumlah pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah salah satu bentuk proses pemberian bantuan kepada individu atau sekumpulan individu dalam memecahkan masalahnya, sehingga masing-masing individu akan mampu untuk mengoptimalkan potensi dan keterampilan dalam mengatasi setiap permasalahan, serta mencapai penyesuaian diri dalam kehidupannya.
Adapun bimbingan belajar menurut Oemar Hamalik (2004, hlm. 195) adalah “bimbingan yang ditujukkan kepada siswa untuk mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat,  kemampuannya, dan membantu  siswa untuk menentukan cara-cara yang efektif dan efisien dalam mengatasi masalah belajar yang dialami oleh siswa”. Sedangkan menurut Mulyadi (2010, hlm. 107) “bimbingan belajar adalah proses pemberian bantuan kepada murid dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik garis besar bahwa bimbingan belajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah belajar yang dihadapi siswa, sehingga tercapai tujuan belajar yang diinginkan.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004, hlm. 111) tujuan pelayanan bimbingan belajar secara umum adalah “membantu murid-murid agar mendapatkan penyesuaian yang baik di dalam situasi belajar, sehingga setiap murid dapat belajar dengan efisien sesuai kemampuan yang dimilikinya, mencapai perkembangan yang optimal”. Sedangkan menurut Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005, hlm. 15) tujuan bimbingan belajar, antara lain:
1. Mempunyai sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, dan perhatian terhadap semua pelajaran, serta aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
2. Mempunyai motif yang tinggi untuk belajar.
3. Mempunyai keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.
4. Mempunyai keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, contohnya membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas sekolah tepat waktu, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
Fungsi bimbingan belajar bagi siswa menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003, hlm. 237), antara lain:
1. Fungsi pemahaman individu, yaitu membantu para siswa di dalam pemahaman individu, baik individu dirinya ataupun orang lain.
2. Fungsi pencegahan dan pengembangan, yaitu mencegah siswa berkembang ke arah negatif-destruktif dan mendorong siswa untuk berkembang ke arah yang positif-konstruktif.
3. Fungsi membantu memperbaiki penyesuaian diri, yaitu membantu siswa dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan di sekitarnya.
Sementara fungsi bimbingan menurut Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005, hlm. 16), di antaranya:
1. Pemahaman, yaitu membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya.
2. Preventif, yaitu membantu siswa untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang terjadi dan berupaya mencegahnya, supaya masalah tidak dialami oleh siswa.
3. Pengembangan, yaitu upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memfasilitasi perkembangan siswa.
4. Perbaikan, yaitu berupaya memberikan bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah.
5. Penyaluran, yaitu membantu individu memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6. Adaptasi, yaitu membantu pelaksana pendidikan untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.
7. Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma.
Adapun langkah-langkah umum dalam melaksanakan suatu bimbingan belajar menurut Nana Syaodih Sukmadinata dan Sunaryo Kartadinata (2007, hlm. 93), sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan masalah peserta didik
Tahap ini ditujukan untuk mengidentifikasi macam-macam kebutuhan, tantangan, dan masalah yang dirasakan dan dihadapi oleh peserta didik serta langkah-langkah identifikasinya. Kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik adalah kebutuhan fisik, sosial, afektif, maupun intelektual. Sedangkan tantangan-tantangan para peserta didik, contohnya adalah penyelesaian dan lanjutan studi, persiapan karir, peran sosial, dan pembinaan diri. Identifikasi kebutuhan dan tantangan dapat dilakukan melalui pengedaran daftar kebutuhan atau tantangan yang disusun dalam daftar checklist. Sedangkan identifikasi masalah dapat dilakukan melalaui pengamatan, catatan anekdot, pengedaran angket, checklist, dan studi dokumenter.
2. Menganalisis kebutuhan, tantangan masalah, dan latar belakang masalah
Langkah ini merupakan kegiatan untuk mengungkap intensitas kedalaman dan keleluasaan kebutuhan, tantangan yang dirasakan oleh peserta didik secara individual maupun kelompok. Pengumpulan data selain melihat data yang sudah diperoleh melalui checklist juga perlu dilakukan pengumpulan data yang lebih mendalam. Dilakukan dengan cara wawancara mendalam, pengedaran angket yang berisi pertanyaan, pertanyaan yang juga lebih mendalam, pengamatan dan studi dokumenter. Analisis kedalaman masalah atau kesulitan yang dihadapi peserta didik sama dengan analisis kebutuhan dan tantangan.
Analisis kedalaman masalah tersebut, yaitu berupa pengungkapan benyaknya butir masalah yang dihadapi peserta didik secara horisontal dan vertikal. Dari berbagai kegiatan pengumpulan data, identifikasi, analisis kedalaman-keluasan kebutuhan, tantangan dan masalah serta interpretasi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan-kesimpulan kebutuhan tantangan dan masalahpun dirumuskan dalam bentuk alternatif kebutuhan, masalah bukan hanya dalam satu rumusan kebutuhan masalah. Pembuatan alternatif perkiraan kebutuhan masalah, bukan hanya menggambarkan adanya macam-macam kemungkinan kebutuhan, tantangan dan masalah yang dihadapi peserta didik, tetapi juga tingkat kedalaman dan keluasan dari kebutuhan kesulitan tersebut berbeda-beda.
3. Pemberian layanan bimbingan
Setelah diketahui berbagai kebutuhan dan tantangan serta kesulitan yang dihadapi peserta didik dengan berbagai alternatif faktor-faktor yang melatarbelakangi atau penyebabnya, langkah selanjutnya adalah memilih alternatif layanan bimbingan yang dapat diberikan. Untuk setiap kebutuhan tantangan atau masalah yang dihadapi dapat dirumuskan tidak hanya satu jenis layanan, tetapi dapat beberapa sesuai dengan jenis dan sifat kebutuhan serta masalah yang dihadapi. Setelah dibuat alternatif, langkah selanjutnya adalah memberikan layanan bimbingan. Layanan yang dapat diberikan bermacam-macam, seperti layanan klasikal, informasi, bimbingan kelompok dan konseling. Untuk mengetahui keberhasilan pemberian layanan bimbingan dilakukan evaluasi.
Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian layanan, pada akhir pemberian layanan, dan beberapa waktu berselang setelah pemberian layanan bimbingan. Hasil dari evaluasi dapat digunakan untuk pemberian layanan bantuan berikutnya, penyusunan, dan penyempurnaan program bimbingan, penyiapan materi dan media bimbingan, pengisian buku catatan pribadi, dan bila perlu untuk bahan penyusunan laporan.

Referensi
Ahmadi, A., & Supriyono, W. (2004). Psikolog Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, O. (2004). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Multadi (2010). Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.
Prayitno (2004). Layanan Bimbingan Belajar Kelompok dan Konseling Kelompok. Padang: Universitas Negeri Padang.
Sukmadinata, N. S. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, N. S., & Kartadinata, S. (2007). Bimbingan dan Konseling dalam Praktik. Bandung: Maestro.
Walgito, B. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Andi.
Yusuf, S., & Nurihsan, J. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon