Wednesday, 30 October 2019

Kerajaan Kalingga (Ho-Ling)


Kerajaan Kalingga (Ho-Ling)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kerajaan ho-ling

Kerajaan Kalingga atau Ho-Ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 Masehi. Letak pusat kerajaan ini tidak begitu jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara. Sumber sejarah kerajaan ini tidak begitu jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan Cina, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian, yakni pada abad ke-16 Masehi yang menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Diketahui rakyat Kerajaan Kalingga hidup makmur, tentram, dan damai. Kotanya dikelilingi pagar kayu. Rajanya tinggal di sebuah bangunan besar dan bertingkat yang beratap daun palem.
Pada tahun 674, Kerajaan Kalingga diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal bertindak adil dan bijaksana. Pemerintahannya sangat keras dan berlandaskan kejujuran serta keadilan. Sehingga, tidak ada satu pun dari rakyatnya yang berani melanggar hak dan kewajiban, serta peraturan yang telah dikeluarkan oleh kerajaan. Adapun aturan yang paling terkenal, yakni “barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya”. Bahkan, sebagai bukti ketegasan dan keadilannya, Ratu Shima sampai menghukum putranya sendiri yang melanggar peraturan.
Ratu Shima adalah ratu Kerajaan Kalingga yang sangat tegas. Ia beragama Hindu aliran Siwa. Di era pemerintahannya, Kerajaan Kalingga mengalami masa keemasannya. Terdapat peninggalan (artefak) yang ditemukan di daerah Keling yang diduga berasal dari zaman pemerintahan Ratu Shima, yang menerangkan bahwa ia memerintah dengan adil dan bijaksana saat itu.
Di dalam naskah Carita Parahyangan disebutkan bahwa Maharani Shima menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak. Kemudian, Mandiminyak menjari raja kedua dari Kerajaan Galuh. Disebutkan juga bahwa Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha. Sanaha menikah dengan raja ketiga Kerajaan Galuh, bernama Bratasenawa. Dari pernikahan antara Bratasenawa dan Sanaha melahirkan seorang anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Setelah Ratu Shima meninggal pada tahun 732 Masehi, maka Sanjaya menjadi raja Kerajaan Kalingga bagian utara yang kelak bernama Bumi Mataram. Setelah itu, Raja Sanjaya mendirikan Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. Maksud dari dinasti kerajaan adalah sistem kerajaan yang para pemimpin/pejabat kerajaan dan yang penerusnya diteruskan oleh anak cucunya. Sehingga, jadilah kerajaan yang raja-rajanya dari masa ke masa satu turunan yang sama.
Kerajaan Kalingga diserang besar-besaran oleh Kerajaan Sriwijaya dan akhirnya pada tahun 752 Masehi, Kerajaan Kalingga takluk oleh Kerajaan Sriwijaya.
Berita keberadaan Kerajaan Kalingga atau Ho-Ling juga diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing. Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618-906 Masehi) memberikan keterangan tentang Kerajaan Kalingga atau Ho-Ling, sebagai berikut:
1. Ho-Ling terletak di laut selatan. Di sebelah utaranya, terletak Ta Hen La (Kamboja). Di sebelah timurnya, terletak Po-Li (Pulau Bali), dan di sebelah barat, terletak Pulau Sumatera.
2. Ibu kota Ho-Ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
3. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
4. Penduduk Kerajaan Ho-Ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa.
5. Daerah Ho-Ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
Selain catatan dari Dinasti Tang, catatan I-Tsing (664-665 Masehi) juga menyebutkan bahwa pada abad ke-7, tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Budha Hinayan. Di Ho-Ling terdapat pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Budha ke dalam bahasa Cina. Ia bekerja sama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu memuat cerita tentang nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita nirwana dalam agama Budha Hinayan.
Keberadaan Kerajaan Kalingga atau Ho-Ling juga dapat diketahui dari beberapa peninggalannya. Berikut adalah sejumlah peninggalan Kerajaan Kalingga, antara lain:

1. Prasasti Tukmas

Kerajaan Kalingga

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ini bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sansekerta. Pada prasasti ini menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Pada prasasti tersebut terdapat gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

2. Prasasti Sojomerto

Kerajaan Kalingga

Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Raban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi, berbahasa Melayu Kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi. Isi prasasti ini memuat keluarga dari tokoh utama Daputa Salendra, bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Diperkirakan tokoh yang bernama Daputa Salendra adalah cikal bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.

3. Candi Angin

Kerajaan Kalingga

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

4. Candi Bubrah

Kerajaan Kalingga

Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kedua temuan Candi Angin dan Candi Bubrah ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwa. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau Kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah.


EmoticonEmoticon