Thursday, 17 October 2019

Konferensi Yalta


Konferensi Yalta
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

The big three

Konferensi Yalta, yang juga dikenal sebagai Konferensi Krimea dan diberi nama kode Konferensi Argonaut, diadakan pada 4-11 Februari 1945, yakni pertemuan para kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet pada masa Perang Dunia II untuk mendiskusikan reorganisasi pasca perang Jerman dan Eropa. Ketiga negara tersebut diwakili oleh Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, dan Perdana Menteri Uni Soviet, Joseph Stalin. Konferensi ini diadakan di dekat Yalta, Crimea, Uni Soviet, di dalam Istana Livadia, Yusupov, dan Voronstov.
Tujuan konferensi ini adalah untuk membentuk perdamaian pasca perang yang tidak hanya mewakili tatanan keamanan kolektif, tetapi juga rencana untuk memberikan penentuan nasib kepada orang-orang yang dibebaskan di Eropa pasca Nazi. Pertemuan ini dimaksudkan terutama untuk membahas pembentukan kembali negara-negara Eropa yang dilanda perang.
Pada saat Konferensi Yalta berlangsung, angkatan bersenjata Sekutu Barat (Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, dan Belgia) telah membebaskan seluruh Prancis dan Belgia serta sedang berperang di perbatasan Jerman. Di timur, pasukan Soviet berjarak 65 km dari Berlin, setelah mendorong mundur Jerman dari Polandia, Rumania, dan Bulgaria. Pada bulan Februari, Jerman tinggal menguasai wilayahnya sendiri, Belanda, Norwegia, Denmark, Austria, Italia Utara, dan bagian utara Yugoslavia.
Inisiatif untuk mengadakan konferensi “The Big Three” kedua datang dari Franklin D. Roosevelt, awalnya berharap untuk bertemu sebelum pemilihan Presiden Amerika Serikat pada November 1944, tetapi kemudian mendesak untuk mengadakan pertemuan pada awal tahun 1945 di lokasi netral yang disarankan Roosevelt di Mediterania, Malta, Siprus atau Athena. Kemudian Joseph Stalin bersikeras bahwa dokternya menentang setiap perjalanan jauh dan menolak opsi ini. Ia malah mengusulkan agar mereka bertemu di Yalta, Krimea. Ide ini mendapat sambutan dari Roosevelt dan secara resmi menetapkan Uni Soviet sebagai tuan rumah pada konferensi ini. Adapun semua sesi pleno yang diadakan pada konferensi ini diakomodasi oleh Amerika Serikat.
Masing-masing dari ketiga pemimpin memiliki agendanya sendiri untuk Jerman pasca perang dan membebaskan Eropa. Roosevelt mengiginkan dukungan Uni Soviet dalam Perang Pasifik Amerika Serikat melawan Jepang, khususnya untuk invasi yang direncanakan Jepang (Operasi Badai Agustus), serta partisipasi Uni Soviet di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Churchill mendesak pemilihan bebas dan pemerintahan demokratis di Eropa Timur dan Tengah (khususnya Polandia). Sedangkan Stalin di konferensi tersebut merasa sangat kuat sehingga dia dapat mendikte persyaratan.
Polandia adalah hal pertama dalam agenda Soviet. Stalin menyatakan bahwa “untuk pemerintah Soviet, masalah Polandia adalah salah satu kehormatan”. Selain itu, Stalin menyatakan mengenai sejarah bahwa “karena Uni Soviet telah berdosa besar terhadap Polandia, pemerintah Soviet berusaha untuk menebus dosa-dosa itu”. Stalin menyimpulkan bahwa “Polandia harus kuat dan bahwa Uni Soviet tertarik pada penciptaan Polandia yang perkasa, bebas, dan merdeka”. Polandia harus diberi kompensasi untuk itu dengan memperluas perbatasan baratnya dengan mengorbankan Jerman.
Roosevelt ingin Uni Soviet memasuki Perang Pasifik melawan Jepang dengan Sekutu, yang ia harap akan mengakhiri perang lebih cepat dan mengurangi korban Amerika. Satu prasyarat Soviet untuk deklarasi perang melawan Jepang adalah pengakuan resmi Amerika atas kemerdekaan Mongolia dari Cina. Soviet juga menginginkan pengakuan kepentingan Soviet di jalur kereta api Manchuria dan Port Arthur. Kondisi ini kemudian disepakati oleh Amerika.
Soviet juga menginginkan penyerahan Karafuto dan Kepulauan Kuril, yang diambil dari Uni Soviet oleh Jepang dalam perang pada tahun 1905, yang juga disetujui. Sebagai imbalannya, Stalin berjanji bahwa Uni Soviet akan memasuki Perang Pasifik tiga bulan setelah kekalahan Jerman.
Selanjutnya, Uni Soviet setuju untuk bergabung dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan pemahaman rahasia tentang formula pemilihan dengan kekuatan veto untuk anggota tetap Dewan Keamanan, sehingga memastikan bahwa setiap negara dapat memblokir keputusan yang tidak diinginkan.
Adapun kesepakatan utama pada Konferensi Yalta, sebagai berikut:
1. Rencana penyerahan tanpa syarat Jerman. Pendudukan Jerman akan dikuasai Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet.
2. Rencana konferensi pembentukan PBB di San Francisco pada tanggal 25 April 1945.
3. Rencana Uni Soviet memaklumkan perang terhadap Jepang setelah kekalahan Jerman dengan kompensasi pemberian wilayah Sakhalin Selatan, Kepulauan Kuril, serta pengambilan Port Arthur dan Dairen kepada status semula pada tahun 1904. Sedangkan jalan kereta api Manchuria akan dikuasai bersama oleh Cina dan Uni Soviet.


EmoticonEmoticon