Monday, 2 December 2019

Peristiwa Bandung Lautan Api


Peristiwa Bandung Lautan Api
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

bandung lautan api

Bandung Lautan Api adalah sebuah sebutan untuk peristiwa terbakarnya kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia dalam upaya menjaga kemerdekaan Indonesia. Pembakaran ini dilakukan oleh masyarakat Bandung sebagai bentuk respons atas ultimatum oleh sekutu yang memerintahkan untuk mengosongkan Bandung.
Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Peristiwa ini dilakukan oleh masyarakat Bandung yang diperkirakan berjumlah 200.000 orang. Dalam waktu tujuh jam, mereka melakukan pembakaran rumah serta harta benda mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bandung.
Peristiwa Bandung Lautan Api ini dilatarbelakangi banyak hal, antara lain:
1. Brigade MacDonald atau sekutu menuntut masyarakat Bandung agar menyerahkan seluruh hasil dari pelucutan senjata Jepang kepada pihak sekutu.
2. Sekutu mengeluarkan ultimatum yang berisi memerintahkan agar kota Bandung bagian utara dikosongkan paling lambat tanggal 29 November 1945.
3. Sekutu membagi Bandung menjadi dua sektor, yaitu sektor utara dan sektor selatan.
4. Rencana pembangunan kembali markas sekutu di Bandung.
Secara kronologis, peristiwa Bandung Lautan Api berawal saat pasukan sekutu mendarat di Bandung. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada Oktober 1945. Para pejuang Bandung saat itu tengah gencar-gencarnya merebut senjata serta kekuasaan dari tangan Jepang.
Hubungan pemerintah Republik Indonesia dengan sekutu juga sedang tegang. Di saat seperti itu, pihak sekutu menutut agar seluruh senjata api yang ada di tangan masyarakat, kecuali Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi, diserahkan pada pihak sekutu. Hal ini ditegaskan lewat ultimatum yang dikeluarkan pihak sekutu. Isi ultimatum tersebut, yakni agar senjata hasil pelucutan Jepang segera diserahkan pada sekutu serta masyarakat Indonesia segera mengosongkan kota Bandung bagian utara paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk keamanan rakyat.
Ditambah lagi, orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan juga mulai melakukan tindakan-tindakan yang menganggu keamanan rakyat. Hal semacam ini juga semakin mendorong adanya bentrokan bersenjata. Saat malam tanggal 21 November 1945, TKR serta sebagian badan perjuangan Indonesia melancarkan serangan pada Inggris di wilayah Bandung bagian utara. Hotel Hotman dan Hotel Preanger yang digunakan Inggris sebagai markas tidak luput dari serangan.
Menanggapi serangan ini, tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum pada Gubernur Jawa Barat. Ultimatum ini berisi agar Bandung bagian utara dikosongkan oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga pasukan bersenjata. Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tidak menghiraukannya, sehingga pecahlah pertempuran pada tanggal 6 Desember 1945.
Selanjutnya, pada tanggal 23 Maret 1946, sekutu kembali mengulang ultimatumnya. Sekutu memerintahkan agar Tentara Republik Indonesia (TRI) segera meninggalkan kota Bandung. Mendengar ultimatum ini, pemerintah Indonesia di Jakarta kemudian mengintruksikan agar TRI mengosongkan kota Bandung untuk keamanan rakyat.
Walau demikian, perintah ini berbeda dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta. Dari Yogyakarta, keluar intruksi agar terus bertahan di Bandung. Kondisi di Bandung menjadi semakin genting. Situasi kota ini dipenuhi kepanikan. Para pejuang juga bingung dalam mengikuti intruksi yang berbeda dari pusat Jakarta serta Yogyakarta. Pada akhirnya, para pejuang Indonesia memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran pada sekutu di tanggal 24 Maret 1946.
Para pejuang Indonesia menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi kota Bandung bagian utara. Setelah berhasil membumihanguskan kota Bandung bagian utara, barulah mereka mundur. Aksi ini dilakukan oleh 200.000 orang selama 7 jam. Keadaan Bandung yang dipenuhi dengan kobaran api laksana lautan inilah yang membuat peristiwa tersebut dijuluki dengan sebutan Bandung Lautan Api.
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung lalu meninggalkannya dengan alasan tertentu. Maksudnya, yaitu untuk mencegah tentara sekutu memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Operasi pembakaran Bandung ini dikatakan sebagai operasi “bumihangus”. Keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung diambil lewat musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3), yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, tanggal 23 Maret 1946.
Hasil musyawarah itu lalu diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, pada hari itu juga, rombongan besar masyarakat Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para penduduknya pergi meninggalkan Bandung.
Dengan terbakarnya kota Bandung, maka sekutu tidak bisa memakai Bandung sebagai markas strategis militer. Operasi bumihangus ini membuat asap hitam mengepul tinggi menyelimuti kota Bandung. Semua listrik turut padam.
Di dalam kondisi genting ini, tentara Inggris juga menyerang sehingga pertempuran sengit tidak terhindarkan. Pertempuran terbesar berlangsung di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Di tempat inilah adanya gudang amunisi besar milik tentara sekutu.
Rupanya, pejuang Indonesia Muhammad Toha serta Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) memperoleh misi penghancurkan gudang amunisi itu. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang senjata itu dengan dinamit. Walau demikian, kedua milisi itu turut terbakar di dalam gudang besar yang diledakkannya itu.
Awalnya, staf pemerintahan kota Bandung merencanakan untuk tetap berada di dalam kota. Akan tetapi, untuk keselamatan mereka, maka pukul 21.00 itu, mereka juga turut dalam rombongan yang dievakuasi dari Bandung. Mulai sejak saat itu, sekitar pukul 24.00, Bandung kosong dari masyarakat serta TRI. Sementara, api masihlah membumbung membakar kota, hingga Bandung menjadi lautan api.
Istilah atau sebutan ‘Bandung Lautan Api’ pada peristiwa ini muncul di harian Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946. Ketika peristiwa pembakaran itu terjadi, seorang wartawan muda, Atje Bastaman, menyaksikannya dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak tersebut, Atje Bastaman melihat Bandung memerah mulai dari Cicadas sampai ke Cimindi. Karena itu, begitu ia tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan penuh semangat segera menuliskan berita mengenai peristiwa ini serta memberinya judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Akan tetapi, kurangnya ruang untuk tulisan judulnya membuat ia harus membuat judulnya jadi lebih pendek, yaitu menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.


EmoticonEmoticon