Thursday, 19 December 2019

Sekolah Alam


Sekolah Alam
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

konsep Sekolah Alam

Sekolah alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. Sekolah alam berusaha mengembangkan pendidikan agar manusia belajar dari seluruh makhluk di alam semesta.
Sekolah alam merupakan salah satu bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media utama untuk pembelajaran peserta didiknya. Sekolah alam dapat menjadi alternatif sekolah yang dapat membawa anak menjadi lebih kreatif, berani mengungkapkan keinginannya, dan mengarahkan anak pada hal-hal yang positif. “Sekolah alam cenderung membebaskan keinginan kreatif anak, sehingga anak akan menemukan sendiri bakat dan kemampuan lebih yang dimilikinya” (Satmoko Budi Santoso, 2010, hlm. 12).
Anak-anak di sekolah alam belajar tidak hanya dengan mendengarkan penjelasan guru, melainkan dengan melihat, menyentuh, merasakan, dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran. Anak juga diarahkan untuk memahami potensi dasarnya sendiri, setiap anak dihargai kelebihan dan dipahami kekurangannya.
Sejak dini, anak-anak dikenalkan dengan lingkungan kehidupan nyata. Anak-anak sekolah alam dibebaskan untuk tidak berseragam, biasanya mengenakan pakaian bermain lengkap dengan sepatu boot yang membuat mereka bebas untuk bereksplorasi dengan lingkungan. Keberagaman dipandang sebagai suatu yang unik dan keseragaman tidak dipandang dari apa yang dikenakan, tetapi pada akhlak, perilaku, dan sikap serta semangat belajar dan rasa ingin tahu anak.
Sekolah alam merupakan pendidikan yang menawarkan konsep pendidikan nilai dan peduli terhadap lingkungan. Pendidikan dalam konsep sekolah alam merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan jelas memiliki tujuan. Sehingga diharapkan dalam penerapannya tidak kehilangan arah dan pijakan. “Keberadaan sekolah alam pada dasarnya dalam tujuan kurikulumnya mencakup penciptaan akhlak yang baik, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penciptaan pemahaman kepemimpinan yang memadai” (Satmoko Budi Santoso, 2010, hlm. 18).
Satu hal yang tidak bisa dilewatkan dari keberadaan sekolah alam adalah komitmennya pada pencipataan pemahaman kepemimpinan yang memadai. Lebih spesifik lagi, peserta didik diarahkan menjadi inovator yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Konteks kepemimpinan di sini tidak hanya mampu memimpin secara sosial, namun juga untuk dirinya sendiri. “Sehingga dalam dunia nyata, target outcome yang diharapkan siswa mampu menjadi anak yang memiliki kriteria cinta lingkungan dan menjadi inovator dalam segi kepemimpinan” (Septriana, 2009, hlm. 90).
Sejak dini, anak-anak sekolah alam diperkenalkan dengan berbagai kegiatan yang unik. Mereka dibiasakan melakukan bisnis dengan kegiatan market day, yaitu siswa diajarkan usaha jual-beli dari dan untuk mereka. Terdapat acara open house di mana setiap siswa mendapat peran untuk menjadi tuan rumah bagi tamu undangan yang hadir untuk melihat kemajuan sekolah alam. Latihan permainan outbound juga melatih keberanian, kesabaran, keuletan, kerjasama tim, dan kepemimpinan. Latihan ini membangun struktur  mentalitas mereka secara kuat.
Semua proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah alam dibuat dalam suasana fun learning. Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana tersebut, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan menggunakan konsep fun learning, sekolah alam telah mengubah sekolah menjadi sebuah miniatur kehidupan yang tidak hanya natural dan riil, sekaligus juga indah dan nyaman. Proses belajar berubah menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan penuh kegembiraan.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan pada sekolah alam, yaitu pendekatan spider web (tematik), di mana suatu tema diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian, pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran bersifat integratif, komprehensif, dan aplikatif. Kemampuan dasar yang dikembangkan pada anak-anak di sekolah alam meliputi kemampuan membangun jiwa keingintauan, melakukan observasi, membuat hipotesis, dan berpikir ilmiah.

Referensi
Santoso, S. B. (2010). Sekolah Alternatif, Mengapa Tidak? Yogyakarta: Diva Press.
Septriana. (2009). Lendonovo Sebuah Novel Tentang Dia Penggagas Sekolah Alam. Bogor: SoU Publisher.


EmoticonEmoticon