Monday, 20 January 2020

Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE)


Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

POE

Model pembelajaran predict observe explain (POE) adalah suatu model pembelajaran di mana guru menggali pemahaman peserta didik dengan cara meminta mereka melaksanakan tiga tugas utama, yaitu memprediksi, mengamati, dan memberikan penjelasan. Menurut Indrawati dan Setiawan (2009, hlm. 45) model pembelajaran predict observe explain (POE) merupakan “model pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, peserta didik diajak untuk menduga atau membuat prediksi dari suatu kemungkinan yang terjadi dengan pola yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap masalah tersebut untuk dapat menemukan kebenaran atau fakta dari dugaan awal dalam bentuk penjelasan”. Sedangkan menurut Sudiadnyani (2013, hlm. 3) model pembelajaran predict observe explain (POE) ini “dapat melatih peserta didik untuk aktif terlebih dahulu mencari pengetahuan sesuai dengan cara berpikirnya dengan menggunakan sumber-sumber yang dapat memudahkan dalam pemecahan masalah”.
Model pembelajaran predict observe explain (POE) pertama kali diperkenalkan oleh White dan Gusnstone pada tahun 1995 dalam bukunya yang berjudul “Probing Understanding”. Model ini merupakan langkah efisien untuk menciptakan diskusi antar peserta didik mengenai konsep ilmu pengetahuan. “Model ini melibatkan peserta didik dalam memprediksi atau menduga suatu fenomena, melakukan observasi, dan akhirnya menjelaskan hasil observasi serta prediksi mereka” (Restami, 2013, hlm. 3).
Menurut Indrawati dan Setiawan (2009, hlm. 45) model pembelajaran predict observe explain (POE) menggali pemahaman konsep ilmu pengetahuan peserta didik melalui tiga langkah utama, sebagai berikut:
1. Predict (membuat prediksi) merupakan suatu proses membuat dugaan terhadap suatu peristiwa atau fenomena. Peserta didik memprediksi jawaban dari suatu permasalahan yang dipaparkan oleh guru, kemudian peserta didik menuliskan prediksi tersebut beserta alasannya. Peserta didik menyusun dugaan awal berdasarkan pengetahuan awal yang mereka miliki.
2. Observe (mengamati) merupakan suatu proses peserta didik melakukan pengamatan mengenai apa yang terjadi. Peserta didik melakukan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Peserta didik mencatat apa yang mereka amati, mengaitkan prediksi mereka sebelumnya dengan hasil pengamatan yang mereka peroleh.
3. Explain (menjelaskan) merupakan suatu proses peserta didik memberikan penjelasan mengenai kesesuaian antara dugaan dengan hasil pengamatan yang mereka lakukan.
Model pembelajaran predict observe explain (POE) menurut Hakim (dalam Apriliantika, 2012, hlm. 9-10) memiliki tiga langkah umum secara terperinci dijabarkan, sebagai berikut:
1. Membuat prediksi atau dugaan (predict)
a. Guru menyajikan suatu permasalahan atau persoalan.
b. Peserta didik diminta untuk membuat dugaan atau prediksi. Di dalam membuat dugaan, peserta didik diminta untuk berpikir tentang alasan mengapa ia membuat dugaan seperti demikian.
2. Melakukan observasi (observe)
a. Peserta didik diajak guru melakukan pengamatan berkaitan dengan permasalahan yang telah disajikan.
b. Peserta didik diminta mengamati apa yang terjadi.
c. Kemudian peserta didik menguji apakah dugaan yang mereka buat benar atau salah.
3. Menjelaskan (explain)
a. Bila dugaan peserta didik ternyata terjadi dalam pengamatan, guru dapat merangkum dan memberi penjelasan tambahan untuk menguatkan hasil pengamatan yang dilakukan.
b. Bila dugaan peserta didik tidak terjadi dalam pengamatan, maka guru membantu peserta didik mencari penjelasan mengapa dugaan tersebut tidak benar.
c. Guru dapat membantu peserta didik untuk mengubah dugaannya dan membenarkan dugaan yang semula belum tepat.
Adapun kelebihan dari penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) menurut Yupani (2013, hlm. 3), antara lain:
1. Merangsang peserta didik untuk lebih kreatif, khususnya dalam mengajukan prediksi.
2. Mengurangi verbalisme dengan melakukan eksperimen untuk menguji prediksi.
3. Proses pembelajaran lebih menarik sebab peserta didik tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengamati peristiwa yang terjadi melalui eksperimen.
4. Melalui pengamatan langsung, peserta didik memiliki kesempatan untuk membandingkan dugaan dengan kanyataan. Dengan demikian, peserta didik akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE), di antaranya:
1. Memerlukan persiapan yang matang, terutama dalam penyajian permasalahan dan kegiatan eksperimen yang dilakukan untuk membuktikan prediksi yang diajukan peserta didik.
2. Memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai.
3. Melakukan kegiatan eksperimen memerlukan kemampuan dan keterampilan khusus bagi guru.

Referensi
Aprliantika, P. (2012). Efektivitas Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) pada Materi Reaksi Oksidasi Reduksi dalam Meningkatkan Keterampilan Mengomunikasikan dan Menyimpulkan. (Skripsi). Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Indrawati, & Setiawan, W. (2009). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Resmati, M. P. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Sikal Ilmiah Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa. (Tesis). Singaraja: Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Sudiadnyani, P. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas IV SD di Kelurahan Banyuasri. (Tesis). Singaraja: Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Yupani, N. P. E. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE) Berbantuan Materi Bermuatan Kearifan Lokal terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV. (Skripsi). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.


EmoticonEmoticon